Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis

oleh -1,106 views
Fazwan Wasahua

Tapi mari kita bertanya: benarkah Salahuddin menaklukkan Fatimiyah demi akidah? Atau demi stabilitas politik dan konsolidasi militer? Dan jika benar ia menghapus kekuasaan Fatimiyah, apakah itu berarti semua Syiah layak dibasmi sebelum melawan penjajahan?

Sejarah adalah medan tafsir, bukan kitab suci. Di tangan para penafsir dengan agenda sektarian, sejarah menjadi senjata. Digunakan bukan untuk menginspirasi, tapi untuk membenarkan kebencian yang sudah lama dibiarkan membusuk.

Apakah Al-Quds hari ini dikunci oleh Syiah? Bukan. Ia dikepung oleh tembok-tembok Zionis. Dihancurkan oleh jet-jet tempur, bukan oleh fiqh Syiah. Maka mengapa kita lebih sibuk memerangi sesama umat, padahal yang mencaplok tanah wakaf bukan mereka?

Baca Juga  Efisiensi Anggaran Pangkas Pokir DPRD Halsel, Kini Tersisa Rp500 Juta per Anggota

Mereka yang mengutip Salahuddin sebagai dalih untuk memusuhi Syiah hari ini lupa satu hal: Salahuddin tak pernah menyerukan pemusnahan kaum Syiah. Ia bukan pengkhotbah kebencian. Ia bukan peniup api fitnah. Ia seorang pemimpin militer yang berpikir strategis—dan bahkan menghormati lawan-lawannya yang jujur dalam pertempuran.

Dan yang lebih sering dilupakan: pasukan Salahuddin sendiri terdiri dari beragam etnis, bahkan mazhab. Ia menyatukan umat, bukan memisahkannya. Ia melawan penjajah, bukan mengkafirkan umat.

No More Posts Available.

No more pages to load.