Amarah Rakyat

oleh -164 views
Ansori

Oleh: M. Isa Ansori, Akademisi, Wakil Ketua ICMI Jatim

Rakyat yang marah adalah tanda bahwa negara gagal mendengar jeritannya. Setiap kali demonstrasi berubah menjadi kerusuhan, pola yang muncul selalu sama: kantor polisi dibakar, gedung DPR/DPRD diserang, kantor kepala daerah dirusak, bahkan rumah para pejabat dan politisi ikut dijarah.

Amarah itu bukan tanpa arah. Ia menyasar pada simbol-simbol kekuasaan yang dianggap angkuh, culas, dan pengkhianat.

Ini akan menjadi pesan penting kepada para wakil rakyat, presiden, gubernur, walikota dan bupati yang hanya butuh rakyat ketika menjelang pemilu dan pilkada, begitu terpilih ingkar dan lupa akan janji janjinya serta meninggalkan komitmennya terhadap perjuangan bersama mensejahterakan rakyat yang dilakukan.

Simbol Kekuasaan Menjadi Target

Baca Juga  Ketum Golkar Bahlil Lahadalia Minta Kasus Pembunuhan Nus Kei Diusut Tuntas

Mengapa pasar, sekolah, atau rumah rakyat jarang jadi korban? Karena bagi massa, itu bukan musuh mereka. Musuh yang nyata ada pada simbol kekuasaan. Polisi dipandang sebagai tangan besi negara, yang sering kali lebih sibuk memukul rakyat daripada melindungi. DPR/DPRD dilihat sebagai gedung aspirasi yang sudah lama berubah menjadi gedung oligarki. Kepala daerah menjadi wajah janji-janji politik yang terbukti kosong.

No More Posts Available.

No more pages to load.