Oleh: Moh Ramli, wartawan, penulis buku Tragedi Demokrasi
Presiden Uruguay Jose Mujica wafat pada Selasa, 13 Mei 2025, saat usianya menginjak 89 tahun. Di Amerika Latin, kepergiannya itu ditangisi dan dirasakan sebagai kehilangan yang teramat besar. Ia teladan di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin materialistik. Ia dihormati sebab pilihan hidupnya teramat sangat mengesankan.
Mujica menjadi Presiden Uruguay dari 2010 hingga 2015. Selama menjadi orang nomor satu di negaranya, alih-alih tidur di kasur empuk istana, naik mobil dengan harga selangit, ia justru memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di pinggiran Montevideo, yang hanya dijaga dua polisi dan seekor anjing berkaki tiga.
Ia juga hanya menggunakan mobil Volkswagen Beetle sebagai mobil dinasnya. Transportasi tua ini pun bukan milik negara, melainkan milik pribadinya.
Selama Mujica jadi presiden, ia menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk pemberdayaan usaha kecil menengah dan orang tidak mampu. Gajinya perbulan adalah sekitar 12.800 dollar AS. Hanya 800 dollar AS diambil untuk keperluan pribadinya. Sisanya untuk mereka yang dipandang lebih membutuhkan.
Atas keputusan-keputusannya yang heroik itu, ia disebut oleh media-media di sana sebagai “Presiden Miskin.” Tapi nampaknya ia tak sepakat dengan “gelar” tersebut.











