Kini Kalimantan memberikan pelajaran yang lebih keras.
Asapnya pergi jauh.
Ia menyeberang ke negeri tetangga.
Dan ketika itu berdampak ke negara jiran, kita seakan melihat sebuah peta yang mendadak menjadi tidak berguna.
Garis perbatasan tetap ada.
Tetapi asap tidak melihatnya.
Barangkali inilah olok-olok alam kepada manusia yang terlalu percaya pada batas administratif:
Kalian boleh menggambar garis di peta. Tetapi jangan berharap angin ikut menggambarnya.
Dan Jakarta—kota yang dahulu ramai menertawakan kalimat tentang Angin Tak Punya KTP—barangkali perlu tersenyum sebentar.
Sebab kini alam sedang memperagakan sendiri apa yang dulu hanya diucapkan Anies.
Angin bergerak.
Asap mengikuti.
Dan manusia, setelah semuanya terjadi, baru sibuk mencari alamat kesalahan.
Pada akhirnya, yang menemukan kebenaran bukanlah Anies Baswedan, melainkan alam sendiri.
Kalimat yang ia ucapkan pada 2022, ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta, dan kembali ia sampaikan dalam debat Pilpres 2023, memang pernah menjadi bahan olok-olok. Para buzzer yang gemar menyerang Anies menjadikannya semacam lelucon politik: angin kok punya KTP?
Kini kita tahu, lelucon itu justru berbalik arah.
Asap karhutla Kalimantan menyeberang ke Sarawak. Udara tidak berhenti di batas provinsi. Angin tidak mengenal perbatasan negara. Apa yang terbakar di satu tempat dapat menjadi persoalan kesehatan di tempat lain.











