Ada catatan kelam tentang Etnis Armenia di bawah Ottoman (1918), ada perlakuan kasar dan kabares, bahkan cultural violence atau cultural genocide, dari Turki modern terhadap bangsa Kurdistan, yang notabene adalah anak turunan Salahuddin Al Ayyubi, sang pembebas Baitul Maqdis (Jerusalem), dan ada juga pembantaian Balkan dari Pasukan Serbia terhadap Muslim Bosnia (1992-1996) yang sangat keji dalam ukuran peradaban dan hak azasi.
Di Asia, masih ada catatan kelam, sebut saja Bangsa Tibet dan Dalai Lama yang terusir sejak 1950-an tersebut, dibawah kekuasaan Mao Tze Tung. Kamboja juga menyisakan tragedi berdarah, atas nama re-edukasi, regime Pol Phot (Khmer Rouge alias Khmer Merah), membantai 3 juta warganya sendiri tanpa rasa risih. Kini masih berlangsung hal serupa pada Muslim Uyghur, dibawah Beijing. Sementara tetangga kita, junta militer Myanmar, dengan mayoritas Budhisme masih membantai etnis Rohingya, yang dianggap sebagai kelompok Liyan (mereka), bukan “kita.” Dan paling akhir adalah ketika seorang mahasiswi di negara bagian Uttar Pradesh yang dibuli karena berjilbab ke kampusnya. Larangan jilbab mulai meluas di sejumlah negara bagian. Diskriminasi rezim PM. Modi dengan partai Baratiya Janata-nya ini telah mengundang kekhawatiran dunia atas nasib 13 persen Muslim dari 1,35 milyar penduduk India yang mayoritas Hindu.










