Antara Palu dan Manado

oleh -464 views

Apa artinya semua ini bahwa dunia kita masih terfragmentasi dan terkotak- kotak pada rasisme dan politik identitas yang menjadi ruang bagi kemunduran peradaban manusia. Fukuyama telah setengah berteriak akan hal tersebut bahwa dunia demokrasi sedang sekarat karena maraknya politik identitas, politik kebencian yang semakin marak terjadi pada dekade terakhir ini. Steven Lwvitsky dan Daniel Ziblatt, bahkan menulis serius tentang tanda-tanda matinya demokrasi. “Dunia tengah memasuki senjakala demokrasi,” kata Prof.Jean Couteau, ilmuan Perancis, yang menetap di Bali ini. Tidaklah mengherankan, jika Islam, jauh hari telah menandai akan ajaran dasar keragaman sosiologisnya, berbasis pada surat Al Hujarat ayat 13 bahwa keragaman adalah sebuah keniscayaan.

Baca Juga  Aniaya Wartawan, ASN BPKAD Halsel Dipolisikan, Diduga Terkait Pemberitaan

Sikap monolitik, memang sedikit aneh dalam perpsektif Islam. Bahkan bukan hanya Islam, jauh sebelum Islam datang, Abraham telah melakukan praktik keragaman, dimana 3 ajaran besar agama langit mengamininya. Bahkan sejarawan Yuval Noah Harari, menarik jauh peradaban ke belakang sebelum era Abraham. Pada titik ini Manado menjadi titik masuk pertarungan antara Kahmi yang mencitrakan mengemban dakwah Islamiyah yang humanis, toleran dan inklusif terhadap keberagaman. Inilah medan dakwah yang sesungguhnya, untuk menjawab keresahan Fukuyama, Levitsky & Ziblatt, juga Jean Coteau di atas.

No More Posts Available.

No more pages to load.