Antara Palu dan Manado

oleh -726 views

Di tengah maraknya politik identitas dan ujaran kebencian, meminjam frasa Fukuyama (Identity and Politics of Resentment), konsolidasi keindonesiaan kita melalu Munas Kahmi XI di Manado menjadi tuntas. Sebab, sebuah bangsa, yang berdiri di atas puing-puing 73 kerajaan lokal se-Nusantara (yang diobrak- abrik oleh kolonialisme) ternyata imagine community ala Ben Anderson belum selesai. Prof. Mahsun, seorang liungist, yang juga Ketua Kahmi NTB, menawarkan pendekatan genoliungistik, sebagai sebuah instrumen untuk membenahi Indonesia. Bagi HMI dan KAHMI, “bahasa Indonesia” sebagai satu bahasa telah selesai pada momentum Sumpah Pemuda 1928, namun “bahasa tentang Indonesia” belum selesai. Kahmi harus datang di Sulawesi Utara untuk mendengar genolingusitik orang Sulawesi Utara tentang Indonesia.

Baca Juga  HUT ke-19 Kota Tual, Wali Kota Ajak Seluruh Stakeholder Bersinergi Bangun Daerah

Menutup catatan ini, saya ingin mengingatkan kita semua keluarga besar Kahmi bahwa nawaitu awal Lafran Pane saat mendirikan HMI. Pertama kali ia meletakkan Indonesia terlebih dahulu baru syiar Islam. Alasannya, wadahnya harus ada lebih dulu, barulah wadah tersebut diisi dengan syiar dakwah. Kini terpulang ke Majelis Nasional Kahmi, apakah mau menjadi motor penggerak konsolidasi keislaman dan keindonesiaan di wilayah yang jauh dari pusat peradaban Islam dan memperkenalkan Islam sebagai rahmat bagi semua komunitas bangsa yang pluralistik ataukah sekedar rutinitas lima tahunan karena tuntutan Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga semata! (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.