Inggris merespons keras dengan embargo minyak, pembekuan aset, dan penarikan pegawai. Mossadegh membalas dengan memutus hubungan diplomatik. Sejak itu, dia dipandang sebagai ancaman utama kepentingan Barat.
CIA dan MI6 kemudian melancarkan Operation Ajax. Dalam dokumen “The Central Intelligence Agency and The Fall of Iranian Prime Minister Mohammed Mossadeq, August 1953”, CIA menyebut Mossadegh makin otoriter.
“Mossadegh tampak dengan cepat berubah. […] Perdana Menteri makin bersikap diktator,” tulis CIA.
Antara 15-19 Agustus 1953, kerusuhan besar pecah di Teheran. Mossadegh digulingkan, nasionalisasi berakhir, dan minyak Iran kembali dikuasai asing. Mossadegh sendiri berakhir menjadi tahanan. Kala itu, kejadian terlihat alami karena protes berasal dari masyarakat. Barulah puluhan tahun kemudian publik mengetahui ada campur tangan AS dalam penggulingan PM.
sumber: cnbc











