Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Asyik benar menonton panggung “pengadilan” Komisi Informasi Pusat (KIP) hari itu. Ruang sidangnya sederhana saja, tak seangker ruang-ruang sidang pengadilan pada umumnya. Sidangnya lebih tampak semacam sinetron hukum yang entah kenapa aroma komedinya lebih kuat dari ketegangan resminya.
Bayangkan, umat manusia yang sudah menempuh revolusi industri, menaklukkan luar angkasa, menciptakan AI, bahkan sudah bisa pesan bakso lewat drone, kini berkumpul hanya untuk mengadili… selembar ijazah. Ya, cuma selembar ijazah Jokowi, seorang mantan presiden yang dulunya tukang kayu.
Rasanya, kalau ada alien mampir ke bumi hari itu, mereka pasti berpikir: “Oh, ini spesies yang sibuk memvalidasi kertas kelulusan ketika mereka sudah bisa bikin bom nuklir dan konser Coldplay dalam satu hari.” Betapa absurdnya makhluk manusia di potongan bumi ini.
Bahkan di planet Namek pun, sengketa ijazah tak pernah jadi sidang nasional, apalagi perlu disiarkan berjam-jam via streaming. Tetapi bumi edisi Indonesia? Ah, beda kelas: kami menjadikan selembar dokumen sebagai pangkal peradaban baru yang mengguncang jagat politik.
Tentu saja semua bermula dari pertanyaan sederhana: “Asli apa palsu?” Tapi seperti biasa, di negeri ini pertanyaan sederhana cenderung dijawab dengan labirin serpentin yang panjang. Makanya, demi mendapatkan jawaban, para penggerak bin aktivis harus pontang-panting mencari kebenaran.








