Banteng Vs Celeng

oleh -64 views
Link Banner

Oleh: Dhimam Abror Djuraid, Kolumnis tinggal di Kota Surabaya.

Sapi liar disebut banteng, babi liar dinamakan celeng. Sapi yang dipelihara dan diternakkan lebih jinak, sementara banteng lebih bebas dan trengginas karena hidup di alam bebas.

Babi yang dipelihara dan diternakkan biasanya disembelih untuk konsumsi manusia, dan celeng yang hidup di alam bebas harus diburu dan dikejar untuk bisa ditangkap karena lebih gesit dan kencang.

Pendukung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan identik dengan sebutan banteng. Atribusi ini dianggap lebih gagah dan berkonotasi perlawanan, karena banteng adalah hewan bebas yang tidak mudah ditundukkan dan dijinakkan.

Gambar banteng identik dengan PDIP. Banteng sudah menjadi identitas dan trade mark partai itu.

Setiap kali orang melihat gambar banteng asosiasinya langsung menyambung dengan PDIP. Itu kalau mereka berbicara mengenai politik.

Namun, kalau berbicara mengenai minuman suplemen, gambar banteng identik dengan produk minuman suplemen, yang biasanya diminum konsumen kalangan menengah ke bawah.

Sebutan banteng disandang dengan gagah dan bangga oleh kader PDIP. Meski konotasinya liar dan suka ‘serudak seruduk’, tetapi banteng dianggap sebagai simbol perlawanan.

Logo banteng sudah melekat dengan partai nasionalis sejak masa awal kemerdekaan,. Ketika itu Ir. Sukarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dengan logo kepala banteng dalam bingkai segitiga. Partai ini langsung menjadi pemenang pemilu 1955 bersama partai Islam, Masyumi.

Pada era Orde Baru PNI dipereteli dan demerger dengan partai nasionalis lain menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI), logo banteng tetap menjadi identitas.

Setelah Orde Baru bubar dan muncul era reformasi, PDI menjelma menjadi PDI Perjuangan dan tetap mempertahankan logo banteng. Bedanya, banteng PDIP berada di dalam lingkaran dan terlihat lebih gemuk dibanding sebelumnya.

PDIP identik dengan partai perlawanan, karena Ketua Umum Megawati Soekarnoputri berani melawan kekuatan Orde Baru di bawah Soeharto.

Banteng-banteng dianggap sebagai simbol yang berani mendobrak kekuasaan otoritarian. Dan sekarang, ketika PDIP berbalik menjadi partai penguasa, banteng-banteng menjadi pendukung utama yang selalu tangkas dan sering beringas menyeruduk lawan-lawan politiknya.

Baca Juga  Vaksinasi Merdeka Polda Maluku Diikuti 578 Orang

Sebaliknya, di kalangan para pendukung PDIP ada sebutan celeng untuk menjuluki para kader yang membelot dan tidak taat terhadap garis partai. Para kader pembelot itu biasanya menjadi ‘outcast’ orang terusir yang dikeluarkan dari partai.

Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, ketua badan pemenangan DPP PDIP, menyebut istilah celeng untuk menggambarkan kader-kader PDIP yang menentang kebijakan partai.

Pacul menyebut celeng untuk menyindir kader PDIP yang mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar Pranowo untuk maju dalam pemilihan presiden 2024.

Seorang pengurus inti PDIP di Sukoharjo Jawa Tengah ikut mendeklarasikan dukungan terhadap Ganjar dalam deklarasi Seknas Ganjar Indonesia (SGI). Bambang Pacul dengan tajam menyebut kader itu bukan banteng, tetapi celeng.

Gerakan para celeng pendukung Ganjar itu makin hari bukan makin sepi, tetapi malah makin ramai dan berani. Dukungan terhadap Ganjar melalui pembentukan sekretaris nasional (seknas) pusat di Jakarta, menggelinding bak bola salju ke beberapa daerah di Indonesia.

Megawati Soekarnoputri mengancam para banteng itu akan dipecat dan dicelengkan kalau membelot. Ganjar sendiri sudah diancam langsung oleh Mega, kalau sampai berani mendeklarasikan diri maju sebagai capres 2024, Ganjar akan langsung dicelengkan.

Ancaman dan gertakan ini tidak sepenuhnya mempan. Ganjar memang tiarap tidak melawan. Namun, dengan tiarap bukan berarti Ganjar diam tidak bergerak. Ganjar merangkak dalam tiarapnya. Ia terus berjalan, dan diam-diam berlari-lari kecil ketika tidak diawasi.

Buktinya, elektabilitas dan popularitas Ganjar stabil di posisi tiga besar dalam setiap survei yang diadakan berbagai lembaga.

Beberapa survei terbaru menunjukkan posisi Ganjar masih bertahan dua digit bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Adapun Puan Maharani, putri mahkota yang digadang-gadang oleh sang ibunda untuk maju pada pilpres 2024, masih tetap macet di posisi bawah, dengan perolehan angka nol koma atau satu koma.

Berbagai cara dan upaya sudah dilakukan untuk mendongkrak dan mendorong Puan. Baliho-baliho sudah dipasang di seluruh Indonesia. Proteksi penuh sudah diberikan oleh partai dan ibunda.

Baca Juga  Dave Grohl Masih Punya Mimpi Kembali ke Nirvana

Ancaman keras sudah dilontarkan kepada kader yang berani membelot, tetapi toh Puan tetap macet di papan bawah.

Ibarat klasemen kompetisi sepak bola, Puan berada di zona degradasi dan sangat sulit untuk bisa diselamatkan. Seperti logo PDIP yang menggambarkan sapi gemuk dalam lingkaran, sulit dan berat sekali mendorong Puan untuk bisa naik ke papan tengah, apalagi papan atas.

Bambang Pacul tetap yakin bahwa pada saatnya nanti Puan masih bisa didorong. Maklum, Pacul memang pendukung berat Puan.

Namun, bagi kader banteng yang lain, bahan baku Puan dianggap sulit untuk diolah menjadi paket yang layak jual. Karena itu, banyak kader banteng yang nekat menyeberang kepada Ganjar dan berani mengambil risiko dicelengkan.

Munculnya celeng di kandang banteng bukan fenomena baru. Sudah banyak kader banteng yang membelot dan memilih menjadi celeng dan mendirikan partai baru.

Eros Djarot adalah orang dekat Megawati yang menemaninya dalam perjuangan melawan Orde Baru. Belakangan, setelah PDIP lahir dan menjadi partai besar, Eros merasa kecewa terhadap partai. Eros pun mengundurkan diri pada 2002.

Eros kemudian membentuk Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK) yang kemudian diubah menjadi Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan. Para kader banteng pendukung PNBK langsung dipecat dan dijadikan celeng.

Partai ini sempat tumbuh lumayan besar di beberapa daerah, tetapi kemudian menghilang dan mati.

Kader banteng Roy BB Janis juga membelot dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) pada 2005. Namun, partai itu layu sebelum berkembang dan kemudian mati. Logo PDP lebih terlihat seperti sapi kurus yang tinggal tulang belulang, berbanding terbalik dengan sapi gemuk yang menjadi logo PDIP.

Salah satu kader terbaik PDIP yang membelot adalah Sophan Sophiaan. Ia politisi cum aktor andal. Reputasinya bersih dan jujur. Sama dengan Eros Djarot, Sophan membelot dan mengkritik keras kepemimpinan Mega.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Beri Penguatan dan Motivasi Para Dokter RST Latumeten

Bedanya dengan Eros, Sophaan tidak membentuk partai baru. Ia memilih mengundurkan diri.

Itu hanya sebagian saja dari kisah para banteng yang beralih rupa menjadi celeng. Persaingan internal partai selalu mewarnai kiprah parpol di mana pun.

Partai-partai yang punya ideologi sama justru bersaing lebih keras. Sebelum bersaing dengan partai yang beda ideologi, partai-partai itu harus bersaing dengan partai yang berideologi sama.

PDIP pernah pecah. Partai Amanat Nasional (PAN) pecah menjadi Partai Ummat.

Lalu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pecah menjadi Partai Gelora. Dalam kuadran partai-partai ideologis, terjadi persaingan internal yang sangat keras. Biasanya persaingan itu lebih keras dibanding dengan persaingan melawan partai di luar kuadran.

Kuskridho Ambardi menulis disertasi dokotoral di Universitas Ohio, Amerika Serikat, dan menjadi buku ‘’Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi’’ (2009).

Dia mengungkapkan secara tradisional partai-partai di Indonesia terpisah dalam dua kuadran nasionalis dan religius.

Dua aliran itu bersaing dalam pemilu untuk berebut suara. Namun, setelah pemilu usai dua kubu itu mencair menjadi satu dalam koalisi, dan tidak terlihat lagi perbedaan ideologis di antara keduanya.

Hal ini disebut Ambardi sebagai proses kartelisasi politik yang melahirkan partai pemburu rente dari kekuasaan.

Partai-partai politik tidak bisa hidup menjadi oposisi karena jauh dari rente pemerintah yang menjadi sumber pembiayaan partai. Kartelisasi politik inilah yang menyebabkan matinya oposisi di Indonesia.

Kartelisasi ini menyebabkan persaingan antarpartai justru lebih keras di antara sesama partai seideologi dibanding dengan partai dengan ideologi lain, karena kepentingan untuk mempertahankan rente.

Para celeng yang membelot dari kandang banteng akan menghadapi kekuatan kartel politik ini. Sejarah menunjukkan bahwa para celeng pembelot tidak bisa bertahan hidup, kalah oleh partai induk yang menguasai kartel.

Pemilihan presiden 2004 akan makin seru oleh persaingan saling seruduk antara celeng melawan banteng. (*)

Sumber: jpnn

No More Posts Available.

No more pages to load.