Basri Salama, Sang Penolong Warga Miskin Malut yang Sakit Berat Tanpa Pamrih

oleh -289 views

Sekeluarnya dari rumah sakit, tumor di mulut Sahdat mulai tumbuh. Dalam waktu 5 tahun, benjolan itu begitu cepat membesar. Ia harus segera mendapat penanganan medis. Namun kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan. Wati dan keluarganya lalu dikenalkan kepada Basri Salama oleh kakak iparnya. Tanpa pikir panjang, Basri langsung meminta keluarga mengurus keperluan merujuk Sahdat ke Makassar untuk operasi pada tahun 2015. Seluruh biaya akan ditanggungnya.

Sayangnya, operasi perdana di Makassar gagal. Dokter bilang, penyakit Sahdat terbilang langka lantaran ukuran tumornya terlalu besar. Bukannya putus asa, Basri bersikeras Sahdat harus dirujuk ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Sekitar 3 bulan proses berobat Sahdat di Jakarta, Basri tak pernah lepas tangan. Dia menanggung seluruh kebutuhan keluarga ini.

Baca Juga  Arsenal atau Manchester City yang Bakal Juara Liga Inggris?

Operasi kedua terbilang sukses. Sahdat akhirnya pulang ke kampung halamannya dan bisa beraktivitas kembali seperti semula. Hingga 4 tahun kemudian, tumornya kembali muncul. Basri meminta Sahdat dibawa ke Ternate untuk diperiksa. Sahdat dan keluarganya diminta menginap di rumah Basri, ditanggung seluruh kebutuhannya, bahkan disediakan dokter untuk mendampingi. Usai mendapat perawatan, Sahdat dan keluarga kembali ke Morotai. Namun Tuhan memutuskan perjuangan Sahdat melawan penyakitnya harus berakhir. Ia tutup usia di kampung halamannya, di tengah-tengah keluarganya.

No More Posts Available.

No more pages to load.