“Sebelum paitua meninggal, Abang Bas pernah datang juga ke rumah. Setelah paitua meninggal, Abang tetap komunikasi, jaga tanya anak-anak pe keadaan, sering jaga transfer anak-anak pe uang juga,” cerita Wati saat ditemui di kediamannya, Agustus 2024.
“Terima kasih, Abang Bas, terus Ci Ana (istri Basri, red) juga, atas segala bantuannya. Wati minta maaf kalo selama ini Wati banyak salah mungkin,” ucapnya dengan airmata menggenang.
Adimun, Muhammad, dan Wati hanyalah sebagian kecil warga yang merasakan uluran tangan Basri. Warga dengan sakit berat yang ditolong Basri mendapatkan akses kesehatan tersebar ke berbagai kabupaten/kota di Maluku Utara. Mulai dari Ternate, Tidore Kepulauan, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, hingga Pulau Morotai. Misalnya seorang anak penderita katup jantung bocor di Desa Kampung Makian, Halsel, dan anak pengidap hidrosefalus di Desa Patlean, Haltim. Tak terhitung pula ratusan siswa dan mahasiswa yang ia berikan beasiswa untuk membantu biaya pendidikannya. Hingga kini, mereka menganggap Basri adalah keluarga sendiri.
Lalu berangkat dari mana kebaikan hati seorang Basri Salama? Rupanya tak lepas dari perjalanan hidupnya yang berat.
Basri merupakan anak ke-11 dari 12 bersaudara. Saat ini, semua kakaknya telah meninggal dunia. Hanya ia dan sang adik yang tersisa, seorang juragan speedboat.









