Belajar dari Kegagalan Cinta Salman Al-Farisi, Sahabat Nabi Muhammad SAW

oleh -49 views
Link Banner

Perjalanan sahabat Nabi Muhammad SAW asal Persia, Salman Al-Farisi, mengenal Islam tak mudah. Ia bahkan pernah menjadi budak.

Saat berjumpa dengan Rasulullah SAW, Salman al-Farisi, langsung menyatakan keimanannya. Dengan bantuan beliau dan sejumlah Muslimin, dirinya pun dibebaskan dari status hamba sahaya. Sejak saat itu, ia tidak pernah absen dari perjuangan di jalan dakwah bersama dengan Nabi Muhammad SAW. 

Mengikuti jejak beliau, Salman turut berhijrah ke Madinah. Di kota tersebut, Rasul SAW mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan penduduk setempat (Anshar). 

Bagi yang belum memiliki tempat tinggal, dipersilakan menempati pelataran Masjid Nabawi, yakni bagian yang disebut sebagai Suffah. 

Di Madinah, Salman sangat rajin dalam menuntut ilmu dan bekerja. Ia menghayati betul sabda Nabi Muhammad SAW, Tidak ada orang yang mendapatkan makanan yang lebih baik daripada hasil dari pekerjaan tangannya sendiri. Sebagian penghasilannya ditabung untuk menghadapi hari depan. 

Akhirnya, Salman ingin menikah. Selama ini hatinya diam-diam condong pada seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. 

Akan tetapi, dirinya belum berani melamar Muslimah tersebut. Sebagai seorang pendatang dari luar Arab, ia merasa kurang percaya diri. 

Bagaimana adat melamar wanita menurut tradisi masyarakat Madinah? Ia belum bisa memastikan. Yang jelas, jangan sampai melangkah tanpa persiapan yang matang. Karena itu, Salman berinisiatif untuk meminta bantuan dari seorang Anshar, yakni Abu Darda.

Begitu mengetahui maksud kedatangan Salman, Abu Darda mengucapkan hamdalah. Sosok yang bernama asli Uwaimir bin Malik al- Khazraji itu turut senang melihat seorang Muslim yang saleh hendak menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, dirinya bersedia membantu pemuda asal Persia tersebut. 

Selama beberapa hari, segala persiapan dilakukan. Barulah kemudian, Salman dengan ditemani Abu Darda mendatangi kediaman keluarga sang gadis yang dimaksud. Mereka diterima dengan baik oleh tuan rumah. 

“Saya adalah Abu Darda dan ini adalah saudara saya, Salman, dari Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam. Ia pun turut dalam jihad dan beramal di sisi Rasulullah SAW. Bahkan, beliau menganggapnya sebagai anggota ke luarga sendiri,” ujar Abu Darda dengan fasihnya menggunakan dialek bahasa Arab Madinah. 

Setelah perkenalan, ia pun menyampaikan maksud kedatangan. Tujuannya bertamu ialah mewakili Salman untuk melamar putri sang tuan rumah. Rupanya bapak si gadis itu merasa senang sekali. 

Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah SAW yang mulia. “Kami pun senang jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita.

Namun, sang tuan rumah tidak langsung memberi keputusan. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, ia terlebih dahulu menanyakan pendapat putrinya tentang lamaran tersebut. 

“Jadi, saya serahkan keputusan pada putri kami,” ujarnya kepada kedua tamunya itu. Selama beberapa menit, ia meninggalkan Salman dan Abu Darda sejenak di ruang tamu. Dari arah kamar, kemudian datanglah sang tuan rumah dan istrinya. Adapun putri mereka berada di balik hijab. 

Gadis itu telah mengetahui duduk perkara kedatangan Salman dan Abu Darda. Sejurus kemudian, ibunda wanita itu berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang.”

Seketika, kedua tamu itu merasa tegang menanti jawaban. “Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” sambung si ibu. 

Jawaban tersebut sempat mengguncang hati Salman. Bagaimanapun, sahabat Nabi Muhammad SAW itu tetap tegar. 

Ternyata apa yang ingin disampaikan istri tuan rumah itu belum selesai. “Namun, karena kalian berdualah yang datang kepada kami, dengan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan. Putri kami akan menjawab iya apabila Abu Darda yang memiliki keinginan yang sama seperti Salman.” 

Perkataan itu menggetarkan lagi dada Salman. Ternyata gadis yang ingin dilamarnya itu lebih memilih Abu Darda. 

Boleh jadi, sang sahabat Nabi SAW akan patah hati menghadapi situasi ini. Akan tetapi, yang ditunjukkannya adalah perasaan gembira. 

Kekukuhan iman membuatnya ikut senang dengan kebahagiaan yang diterima kawannya, Abu Darda. 

“Allahu akbar, semua mahar dan harta yang kupersiapkan hari ini akan kuserahkan kepada Abu Darda. Aku pun bersedia menjadi saksi pernikahan kalian,” katanya dengan wajah senang dan kelapangan hati.

Akhirnya, disepakatilah mengenai tanggal pernikahan. Dalam perjalanan pulang, Abu Darda mengungkapkan perasaannya,  Wahai Salman, aku merasa malu padamu atas terjadinya peristiwa tadi.” 

“Aku lebih pantas merasa malu denganmu. Aku memang hendak melamarnya, sementara Allah telah memutuskan bahwa wanita tersebut adalah untukmu,” kata Salman. 

Alih-alih kecewa atau iri dengki, ia ikut merasa gembira dengan rezeki Allah SWT yang sampai pada sahabatnya. Ketegaran dan ketulusan hatinya patut menjadi uswah bagi kita semua.   

(red/republika)

No More Posts Available.

No more pages to load.