Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah SAW yang mulia. “Kami pun senang jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita.
Namun, sang tuan rumah tidak langsung memberi keputusan. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, ia terlebih dahulu menanyakan pendapat putrinya tentang lamaran tersebut.
“Jadi, saya serahkan keputusan pada putri kami,” ujarnya kepada kedua tamunya itu. Selama beberapa menit, ia meninggalkan Salman dan Abu Darda sejenak di ruang tamu. Dari arah kamar, kemudian datanglah sang tuan rumah dan istrinya. Adapun putri mereka berada di balik hijab.
Gadis itu telah mengetahui duduk perkara kedatangan Salman dan Abu Darda. Sejurus kemudian, ibunda wanita itu berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang.”
Seketika, kedua tamu itu merasa tegang menanti jawaban. “Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” sambung si ibu.
Jawaban tersebut sempat mengguncang hati Salman. Bagaimanapun, sahabat Nabi Muhammad SAW itu tetap tegar.
Ternyata apa yang ingin disampaikan istri tuan rumah itu belum selesai. “Namun, karena kalian berdualah yang datang kepada kami, dengan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan. Putri kami akan menjawab iya apabila Abu Darda yang memiliki keinginan yang sama seperti Salman.”











