Belajar Pulang dan Lima Puisi Lain Dino Umahuk

oleh -360 views

Di Antara Cahaya Rindu

aku memuji-Mu
dalam sunyi yang gemetar
sebab Engkau menanam cinta
seperti api di dalam kabut, menghangatkan
tapi juga menyisakan luka

cinta datang sebagai bayang di dinding jiwa
mula-mula sekadar permainan cahaya
lalu menjelma luka
yang enggan disembuhkan

ia tak bisa kuucapkan
sebab setiap kata gugur
sebelum tiba pada maknanya
ia hanya bisa kujalani
seperti malam yang harus dilalui
untuk mengenal pagi

hatiku Kau balikkan
seperti pasir di jam takdir
hari menjadi abu
rindu menjadi doa
dan aku, hanya debu
yang belajar berharap

cinta ini penyakit
namun aku tak meminta sembuh
sebab dalam sakitnya
aku mengenal nama-Mu
dan dalam perihnya
kutemukan arah pulang

Engkau ciptakan ia
dari jenisku sendiri sebagai cermin
sebagai rumah melepaskan lelah

di antara gelap dan terang
aku mencintai
di antara hilang dan kembali
aku bertahan

sebab pada cinta aku belajar
bahwa kehilangan adalah cara-Mu
mengajarkan aku

tentang makna keabadian

Depok, 20 Januari 2026

=====================

Di Antara Dua Nafas

di antara sujud yang jatuh perlahan
dan doa yang tak sempat terucap
Tuhan menyulam dua jiwa
dari debu yang sama
dari rindu yang saling mencari

Baca Juga  Wabup Malra Hadiri Rapat Komite INOVASI, Soroti Tantangan Pendidikan Kepulauan

agar jiwa yang gelisah pulang
ke rumah yang didoakan diam-diam

Ia hembuskan sakinah
seperti subuh yang memeluk malam
menenangkan resah yang tak pernah bersuara
mengusap luka yang lupa cara menangis

Ia titipkan mawaddah
pada detak yang saling mendengar
pada pandang yang tak meminta
pada cinta yang tak ingin gaduh
hanya ingin tinggal
dan saling menjaga

dan rahmah turun
bagai hujan yang tahu caranya lembut
mencuci lelah, menyiram sabar
menghidupkan kembali
yang nyaris runtuh oleh waktu

dari dua hati
Ia bangun satu doa
dari dua luka
Ia anyam satu harapan
dari dua takut
Ia ciptakan sebuah rumah

maka jika kau bertanya
apa itu tanda kebesaran-Nya
ia tersembunyi
dalam genggaman sederhana
dalam doa yang saling dititipkan
dalam cinta yang memilih alamat tinggal

Ternate, 16 Juanuari 2026

================

Aku, Laut dan Namamu

aku mencintaimu
seperti laut mencintai bulan
ditarik tanpa janji pulang
dipanggil tanpa pantai

kupikir ombak adalah takdir
padahal hanya cara laut
mengingkari namanya sendiri

aku karam perlahan
menyebut luka sebagai rumah
menyebut hilang sebagai tinggal

kini kutahu
tak semua yang dalam
ingin diselami
beberapa hanya ingin
menyeretku
agar tenggelam

Baca Juga  Ratusan Atlet Haltim Siap Bertarung di Porprov, Pemda Beri Dukungan Penuh

Ternate, 9 Januari 2026

==============

Belajar Pulang

di dalam cahaya-Mu aku melebur
bukan hancur
hanya nama yang Kau tanggalkan

atas kehendak-Mu kami Kau satukan
aku dan dia, bukan dua
melainkan sela yang Kau sunyikan
hingga jarak lupa bernapas

pada matanya aku tiada
pada dadanya aku menetap

cinta bukan getar rasa
ia fana yang Kau bukakan
agar aku belajar
lenyap tanpa mati
dan hidup tanpa memiliki

kasih dan sayang
adalah rahasia-Mu

yang menjelma raga

Kau titipkan tubuh
agar jiwa mengerti
pulang tak selalu arah
karena telah sampai

dan saat kata kehabisan napas
doa memilih diam, aku tahu
mencintainya bukan tujuan
melainkan cara-Mu
mengajarkanku pulang
tanpa suara

Ambon, 6 Januari 2026

============

Kitab Kecil di Dalam Dadamu

kita dicipta dari malam yang sama
saat terang belum bernama
dan doa masih berupa napas

engkau
tak hadir sebagai lentera
melainkan jeda
tempat hatiku belajar diam

di aliran darahmu
letihku menjadi abu
luruh perlahan
seperti salju
yang lupa caranya jatuh

cinta
bukan nyala yang ingin disaksikan
ia ayat yang disimpan
kalam yang dibaca
saat iman gemetar
dan harap kehilangan suara

Baca Juga  PW IKA PMII Malut dan Pengurus Cabang Resmi Dikukuhkan

jika kelak dunia menutup pintunya
biarlah namamu tinggal
di detak terakhir dadaku

sebab sejak mula
engkau adalah malam
yang diciptakan Tuhan
agar aku mengerti
arti pulang

Ambon, 5 Januari 2026

=================

Mantra Malam Anak Adam

Aku anak Adam
Aku datang dalam malam

Aku lapar
Aku sadar

Lapar bukan kekurangan
Lapar adalah pintu

Aku menutup tubuhku dengan kain
Aku membuka jiwaku dengan batas

Aku makan secukupnya agar nafas tinggal
Aku minum sekadarnya agar langkah pulang

Selebihnya aku lepaskan

Karena yang penuh menjadi tabir
Dan tabir menebalkan gelap

Wahai Yang Maha Halus
cahaya-Mu tidak masuk
ke ruang yang menimbun

Kosongkan aku
Ringankan aku

Biarkan aku lapar namun ingat
Biarkan aku cukup namun dekat

Aku melangkah ke rumah-Mu
Tanpa suara
Tanpa berlebih
Tanpa menuntut

Aku berdiri
Aku berhenti

Karena berhenti adalah adab
Dan adab adalah keindahan

Aku anak Adam
Aku tahu batas
Aku pulang

Ambon, 4 Januari 2026

===========

No More Posts Available.

No more pages to load.