Cerpen Karya: Linda Kartika Sari
Kulihat, anak gadisku sudah bertumbuh besar. Rambutnya yang dulu sebahu dan hanya bisa kukuncir kuda, kini mendadak panjang dan terurai lurus. Alis mata yang dulu tak tumbuh kini tercetak tebal di sana. Dia sangat cantik, aku bahagia putriku sudah jelita rupanya. Sekarang, aku tengah memasakkan omelete kesukaannya, dia sangat menyukai makanan berbahan dasar telur tersebut. Kuletakkan makanan itu di meja makan dan bergegas menuju kamarnya.
Ternyata, ia masih tidur; meringkuk hangat dalam selimut yang khusus aku jahitkan untuknya setahun yang lalu. Nyatanya, anakku masih menjaganya. Kususur pelan kristal bening yang merembes dari kelopak mataku. Sepertinya waktu cepat sekali berputar, baru kemarin aku menimang tubuh ringkihnya dalam buaian, baru kemarin bibir mungilnya menyepak mungil memanggil kata “Mama” kepadaku, sekarang … aku harus melihatnya tumbuh dewasa.
“Nak, bangun! Hari telah esok, kamu harus sekolah,” ujarku pelan.
Berusaha mungkin tidak mengejutkannya dari bunga mimpi yang masih ia rangkai. Ia manut, terbangun dengan mata merahnya, tangannya mengucek-ucek lalu beranjak bangun sesuai permintaanku. Sesaat, kulihat ia tengah bercermin, gurat kesedihan terlihat jelas di sana.




