Belajarlah dari Daun

oleh -117 views

“Ada apa, Nak, kenapa bersedih?” tanyaku sembari menyentuh pundaknya.
“Aku lapar, Ma. Nama pasti masak ‘kan?”

Hampir saja aku dibuat tertawa sekaligus berduka, ternyata ia merindukan masakanku. Aku pun mengikuti langkahnya yang tengah menuruni anak tangga, matanya tertuju pada sebuah meja makan yang di atasnya sudah kupersiapkan masakan itu untuknya. Ia ke sana, hanya sekadar melihat lalu beranjak pergi. Anakku tak mau menyentuh masakanku ….

Hari ini, anakku tengah riang gembira, tangannya menari-nari di atas sebuah kertas kosong, aku tersenyum saat melihat sketsa wajahku yang terpatri di sana. Di bawahnya tertulis kata “Mama” yang sangat indah. Kubelai surainya lembut, kukecup keningnya–membuat ia sedikit risih dan membalikkan tubuh menghadapku. Mata bulatnya menatap langit-langit, hingga wajahnya menatap pongah ke arahku.

Baca Juga  Komisi IV DPRD Maluku Minta Anggaran Operasional SMA Siwalima Ditambah pada APBD 2026

“Mama, aku butuh pelukan, aku kesepian …,” ujarnya. Aku pun menuruti perkataannya; memeluk tubuhnya erat. Ia terisak, membuatku tersentak dan buru-buru mengangkat diriku dari tubuhnya.

“Tubuh Mama berat ya, Nak?”
Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya diam menyusur air matanya lalu memeluk kertas bergambar sketsa wajahku.

Dan semuanya membuatku sadar, jiwa kami dekat namun kami tidak bisa saling menjamah. Karena dunia kami sudah berbeda, dunia manusia dan dunia kedua. Aku hanya terdiam, berusaha menerima kenyataan yang ada tidak akan mengelak dari fakta yang sudah terpaparkan adanya.