Berpulangnya Intelektual “Tuang Hati Jantong”

oleh -7 Dilihat

Selain Pak Nur yang meninggal di Tulehu, pada Juli tahun kemarin, kita juga kehilangan seorang intelektual Maluku yang banyak menulis tentang Banda, Pak Usman Thalib. Setelah sebelumnya dua-tiga tahun lalu, kita kehilangan seorang sejarawan hebat di Hila, Leihitu, Opa Mat Lating. Ketiganya memiliki kemiripan pengetahuan dan kritisisme seputar dunia Maluku dan kebudayaan yang kuat.

Pak Nur adalah seorang intelektual yang energik, dalam dan sederhana. Pak Usman Thalib adalah intelektual akademik yang tenang dan tajam. Persis juga Opa Lating, budayawan Maluku yang disegani karena jejak arsip dan ingatan-ingatan historis yang kuat. Kekuatan pengetahuan Pak Nur misalnya terbukti saat beliau mencetuskan istilah “lawamena haulala” yang disematkan bagi institusi TNI di Maluku hingga hari ini.

Baca Juga  Masyarakat Adat Nusaniwe Protes Pembangunan Site Radar TNI AU di Airlow

Pak Noer dalam banyak perjumpaan dan diskusi selalu berdiri dengan sederet analisis teoritik yang kuat, hafalan-hafalan sejarah yang dalam, pengkayaan local wisdom sehari-hari yang filosofis dan selalu terjelaskan. Dalam banyak diskusi dan perjumpaan, Pak Nur selalu dirujuk oleh sejumlah besar akademisi, peneliti dan budayawan sebagai “tuang guru atau maha guru”. Mereka tidak hanya datang untuk mendengar cerita-cerita historis tentang Maluku, melainkan juga ingin meneguk makna-makna makrifat dari aktifitas dan idiom-idiom Maluku yang kaya dari beliau.

No More Posts Available.

No more pages to load.