BI Maluku Kembangkan Digital Farming di Telaga Kodok

oleh -133 views

“Kenapa cabai bisa mahal padahal bisa ditanam di mana saja? Itu karena mindset kita masih beli, bukan tanam,” tegas Latif.

Sebagai bentuk dukungan konkret, BI membentuk kelompok tani, nelayan, dan UMKM untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan laju inflasi. Di Telaga Kodok, BI kini mengelola lahan digital farming seluas 0,5 hektare yang mampu menampung sekitar 6.000 bibit cabai.

Latif juga mengajak setiap wilayah membentuk kelompok tani aktif agar mudah mendapatkan dukungan bantuan dari BI, karena program mereka bersifat jangka panjang dan terukur.

Petani: Hasil Digital Farming Lebih Tinggi

Ibrahim Kaimudin (53), petani di Telaga Kodok, membenarkan manfaat dari sistem pertanian berbasis teknologi ini. Menurutnya, hasil panen dari digital farming jauh lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional pada luas lahan yang sama.

“Semua kebutuhan tanaman terdeteksi lewat aplikasi, mulai dari nutrisi tanah hingga pH. Ini berbeda sekali dengan cara lama yang hanya mengandalkan pengamatan,” ujarnya.

Baca Juga  Tahan Imbang Sporting CP, Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions

Ia menyebut sudah menanam bawang merah dan tomat dua kali dengan metode ini, dan hasilnya sangat memuaskan.

Ibrahim berharap Dinas Pertanian Maluku lebih memperhatikan kondisi petani lokal dan mendukung adopsi teknologi pertanian seperti ini secara lebih luas.

No More Posts Available.

No more pages to load.