Salah satu contoh paling terkenal terjadi di Kolombia pada era 1980-an hingga 1990-an. Saat itu, kartel narkoba Medellín yang dipimpin oleh Pablo Escobar diketahui menjadi penyokong utama klub Atlético Nacional.
Uang dari bisnis narkotika mengalir ke dunia sepak bola, membiayai pemain, stadion, hingga operasional klub. Era tersebut kemudian dikenal sebagai narco-football—periode ketika sepak bola, uang gelap, dan kekuasaan kriminal berkelindan dalam satu ekosistem.
Tragedi pembunuhan bek tim nasional Kolombia, Andrés Escobar, setelah 1994 FIFA World Cup menjadi salah satu simbol paling kelam dari era itu. Gol bunuh diri yang ia cetak saat menghadapi United States men’s national soccer team memicu kemarahan besar di negaranya, dan beberapa hari kemudian ia ditembak mati di kota Medellín.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa sepak bola dapat menjadi ruang yang sangat politis ketika bersentuhan dengan kekuatan ekonomi besar.
Malut United dan Proyek Sepak Bola Baru
Di Maluku Utara, Malut United FC muncul sebagai proyek sepak bola ambisius yang membawa harapan baru bagi masyarakat.
Klub ini merupakan transformasi dari Putra Delta Sidoarjo yang kemudian dibeli dan direlokasi ke Maluku Utara oleh pengusaha tambang David Glen Oei melalui perusahaan PT Malut Sejahtera.









