Bola di Atas Tambang: Membaca Fenomena Sportwashing di Sepak Bola Maluku Utara

oleh -1,394 views
Hubungan antara sepak bola dan kekuasaan bukanlah fenomena baru. Sejarah olahraga dunia menunjukkan bahwa klub sepak bola sering kali berada dalam orbit kepentingan ekonomi dan politik yang besar.Foto: Ilustrasi/AI

Penertiban dilakukan melalui beberapa mekanisme, mulai dari penguasaan kembali kawasan hutan, pengenaan sanksi administratif, hingga proses hukum apabila ditemukan pelanggaran pidana.

Sepak Bola sebagai Legitimasi Sosial

Dalam kajian politik ekonomi olahraga, klub sepak bola sering kali berfungsi sebagai alat legitimasi sosial bagi pemilik modal.

Dengan membangun klub yang membangkitkan kebanggaan lokal, seorang pengusaha dapat memperoleh dukungan publik yang luas. Stadion menjadi ruang simbolik di mana identitas daerah, emosi kolektif, dan citra pemilik klub bertemu dalam satu narasi besar: kebanggaan bersama.

Direktur Indonesia Anti Corruption Network Igrissa Majid, sebelumnya menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk reputational laundering.

“Kami menduga pembiayaan klub sepak bola bisa menjadi bagian dari strategi reputational laundering, yakni mengalihkan sorotan dari isu perizinan tambang dan potensi kerusakan lingkungan,” ujarnya dalam sebuah diskusi mengenai tata kelola sumber daya alam di Maluku Utara.

Baca Juga  Oranye, Ambon dan Seni Mencintai Kekalahan

Dalam literatur global, praktik semacam ini dikenal sebagai sportwashing.

Diagram Relasi Bisnis David Glen

Relasi antara bisnis tambang dan sepak bola dalam konteks ini dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:

David Glen Oei


PT Malut Sejahtera
→ Pemilik klub sepak bola Malut United FC

No More Posts Available.

No more pages to load.