“Tetsu-kun!” pekik gadis bersurai merah muda yang panjang memeluk tubuh kecilnya Kuroko.
“Itai, Momoi-san,” dengan reaksi yang biasa, Kuroko melepaskan tangan Momoi yang sudah melingkar di perutnya. Seperti biasa, Momoi Satsuki, Manajer Touou datang bersama Aomine Daiki, Ace Touou yang tidak terkalahkan. Tanpa berbasa-basi, Aomine langsung mengambil langkah untuk duduk di hadapan Kuroko. 12 buah burger yang dipesannya barusan dibiarkannya begitu saja. Ia malah sibuk mencari ’emas’ dalam telinganya.
“Dai-chan! Itu tidak sopan tahu! Tetsu-kun sedang bersedih. Gomenne, Tetsu-kun mengganggumu saat kau sedang sedih,” ucap Momoi dengan tatapan sedih.
“Daijoubu desu, Momoi-san, Aomine-kun,”
“Apa? Kau masih menggalaukan si Bakagami itu?” cakap Aomine blak-blakan.
“Dai-chan!”
“Yah. Aku mungkin tidak bisa menggantikan Kagami sih, tapi kalau kau mau kau pindah ke sekolahku saja. Aku jamin kau akan langsung jadi pemain inti, karena namamu yang sudah terkenal di kalangan kami,” Momoi terkejut, Kuroko termenung. Suasana di meja mereka bertiga sangat hening sekarang.
Sejak kapan Dai-chan…?
“Yah aku hanya menawari saja sih, kalau tidak mau ya sudah. Karena aku juga akan bisa menang tanpa bantuanmu. Aku hanya mengasihanimu saja,” seperti biasanya, sikap Aomine yang slengekan memang sudah melekat dalam dirinya. Namun dibalik itu, Aomine sedang mengenang masa lalunya. Masa lalunya bersama Kuroko. Ya, sebelum Kagami menjadi cahayanya Kuroko, Aomine adalah cahaya pertamanya Kuroko. Dan Aomine-lah yang mengajarkan Kuroko untuk menjadi bayangannya. Tidak seperti halnya Kagami dan Kuroko, dalam hal ini Kuroko lah yang mengajarkan Kagami untuk menjadi cahayanya. Namun karena suatu peristiwa, suasananya pun menjadi sangat canggung.









