Cendekiawan Muslim Al-Biruni, Dapat Ukur Putaran Keliling Bumi di Abad 11 M

oleh -99 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Abu Arrayhan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Biruni atau yang akrab disapa dengan Al-Biruni merupakan cendekiawan muslim yang dilahirkan di Desa Khath, dahulu menjadi ibu kota Kerajaan Khawarizm, Khiva, Uzbekistan pada 3 Dzulhijjah 362 H/ 15 September 973 M. Ia disebut-sebut sebagai ahli fisika, matematika, astronomi, sejarah, geologi, filsafat, geografi, dan ilmu alam lainnya.

Semasa kecilnya, Al-Biruni dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat agama dan keluarga yang cinta dengan ilmu pengetahuan.

Riwayat kehidupan Al-Biruni tidak banyak diceritakan, namun menurut buku Historiografi Islam: Konsepsi dan Asas Epistemologi Ilmu Sejarah dalam Islam yang ditulis oleh Fajriudin, ia sudah dikenal sebagai remaja yang sangat gemar membaca dan menulis hingga mencintai ilmu pengetahuan.

Sejak saat itu pula, Al-Biruni tertarik pada astronomi dan matematika hingga menuntut ilmu pada astronom dan ahli matematika pada masanya, Abu Nashr Mansur.

Mengutip dari buku Salman Iskandar yang berjudul 99 Tokoh Muslim Dunia, saat usianya menginjak 17 tahun, Al-Biruni telah melakukan pengamatan di bidang astronomi seperti, ketinggian maksimum matahari dengan menghitung garis lintang Kath.

Baca Juga  Disney Umumkan Jadwal Rilis Baru Black Widow dan Mulan

Kemudian, di usianya yang ke 22 tahun, Al-Biruni sudah mahir membaca proyeksi peta yang ditemukan orang lain. Ia juga pernah membuat karya berupa kartografi yang digunakan dalam proyeksi pembuatan peta.

Lalu, di usianya yang ke-27 tahun, Al-Biruni berhasil menulis buku yang berjudul Kronologi. Buku ini berisi tentang hasil kerjanya sendiri, ia juga membuat buku tentang astrolab, buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah. Namun sayangnya saat ini buku-buku tersebut sudah hilang ditelan sejarah.

Menurut penulis Dr. Kasem Ajram, yang dikutip dari detikNews, karya monumental yang dihasilkan oleh cendekiawan muslim ini mencapai 13.000 halaman, karya-karyanya yang hilang pun belum termasuk dalam hitungan.

Selain penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, Al-Biruni juga seorang polyglot, ia fasih dalam berbagai bahasa seperti, Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi, dan Suriah.

Baca Juga  Polsek Prarural Pulau-Pulau Aru Bagikan Takjil Kepada Jamaah Masjid Nurul Haq Dobo

Al-Biruni termasuk pengembara ke berbagai plosok dunia untuk melakukan ekpedisi ilmiah. Ia amat terkesan ketika ia mengikuti perjalanan Sultan Mahmud ke India. Di sana ia mempelajari bahasa Sansekerta dan berbagai hal mengenai India. Ia disebut oleh George Sarton (1952) sebagai Leonardo da Vinci-nya Islam. Bahkan Ajram (1992) menyebutnya jauh lebih hebat dari pada da Vinci.

Semasa hidupnya, Al-Biruni mengembara ke berbagai pelosok dunia untuk melakukan ekspedisi ilmiah. Saat melakukan ekspedisi ke India bersama Sultan Mahmud dari Ghazni, seorang pemimpin Turki, dia mempelajari bahasa Sansekerta hingga menghasilkan sebuah buku yang berjudul “Tarikh al-Hind”.

Jasa dari Al-Biruni yang berharga bagi masyarakat India adalah penciptaan kaidah penggunaan angka-angka India dan kajian mencari ukuran bumi menggunakan perhitungan matematika.

Luar biasanya lagi, pada abad ke-11 M, Al-Biruni yang genius ini berhasil mengukur putaran keliling bumi melalui Astrolabe, alat ukur derajat bintang, ia menghitung menggunakan gunung yang tinggi dengan pemandangan horizon yang rata sempurna dan pendekatan rumus trigonometri.

Baca Juga  Donny van de Beek Sudah Sepakat Pindah ke Real Madrid

Teori Al-Biruni ini juga digunakan untuk mengukur ketinggian pegunungan Himalaya yang rata-rata ketinggian puncaknya sekitar 6.000 m, dengan puncak ketinggian Mount Everest (9.000 m).

Al-Biruni pun mendapat perhatian dari keilmuan Barat dan membuatnya meraih gelar akademik, termasuk Word’s First Great Experimenter. Temuan-temuan penting lainnya dari Al-Biruni adalah pengukuran berat jenis (specific gravity) di dunia fisika, piknometer (alat yang digunakan untuk berat jenis cairan berupa gelas bulat), dan Elemen Astrologi (teks standar dalam dalam Quadrivium hingga sekarang).

Setelah membaca beberapa prestasinya, tidak heran bila nama cendekiawan muslim cerdas ini tercatat dengan tinta emas dalam sejarah ilmuwan dan filsuf muslim yang serba bisa. Hal ini pula yang membuatnya mendapat sebutan “Ustadz fil ulum” atau guru segala ilmu.

(red/detik.com)

No More Posts Available.

No more pages to load.