Cendekiawan Muslim Al-Farabi, Master Kedua Filsafat yang Piawai Bermusik

oleh -453 views

Saat dewasa, Al-Farabi pindah ke Damaskus dan bertemu dengan seorang bangsawan Damaskus, Saif Al-Daulah Hamdani. Ia pun diberi kepercayaan sebagai ulama dan ilmuwan di istana. Siang harinya ia bekerja sebagai tukang kebun dan belajar teks-teks filsafat pada malam harinya.

Meskipun sepanjang hidupnya akrab dengan kehidupan istana bahkan diberikan imbalan yang besar oleh sang sultan, namun Al-Farabi tetap konsisten menjalani hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan.

Al-Farabi dikenal sebagai cendekiawan muslim yang ahli di bidang filsafat. Selain filsafat, ternyata ia juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan lainnya seperti, logika, fisika, ilmu alam, kedokteran, kimia, ilmu perkotaan, ilmu lingkungan, fiqih, ilmu militer, hingga musik.

Baca Juga  Membelah Hotman, Melupakan Cermin

Berkat ketertarikan dan kecerdasannya dalam memahami pemikiran filsafat Aristoteles, ia mendapat julukan “Guru atau Master Kedua (al-mu’allim at thani)” setelah Aristoteles, seperti yang dinukil dari tulisan Siti Nutlaela dalam bukunya Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi.

Bahkan Al-Farabi sempat disetarakan dengan Plato dan Socrates. Karya di bidang filsafatnya yang terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah yang isinya tentang pencapaian kebahagiaan melalui kehidupan berpolitik.

Para filsuf Barat pun mengakui Al-Farabi sebagai perpanjangan filsuf Yunani, seperti yang dilansir dari detikNews. Kehebatan Al-Farabi dibandingkan dengan filsuf Yunani lain ialah kemampuannya menggabungkan disiplin ilmu-ilmu lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.