Cendekiawan Muslim Ibnu Haitsam, Bapak Optik dan Ahli Ilmu Fikih

oleh -39 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Salah satu cendekiawan muslim yang berjasa di dunia muslim dan barat adalah Ibnu Haitsam. Ibnu Haitsam lahir di Basrah pada tahun 965 M.

Ia melanjutkan pendidikannya di kota kelahirannya. Setelah melanjutkan pendidikan, Ibnu Haitsam bekerja sebagai pegawai pemerintah di kota kelahirannya juga.

Setelah beberapa tahun bekerja di Basrah, dirinya memutuskan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di tanah perantauan Ibnu Haitsam terjun kepada dunia penulisan dan melanjutkan pendidikan.

Ibnu Haitsam juga pernah melakukan penelitian di Sungai Nil dan menyalin buku-buku mengenai matematika dan Falak.

Dari hasil kerja keras tersebut kemudian beliau menjadi seseorang yang ahli dalam bidang sains, falak, fikih, matematika, geometri, pengobatan, dan falsafah. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah tulisannya mengenai mata dan menjadi rujukan dalam pengembangan sains barat.

Baca Juga  PUPR dan PDAM Halsel Tangani Masalah Air Bersih di Kayoa

Selain itu Ibnu Haitsam juga melakukan penelitian cahaya. Hal itu dapat dibaca dalam buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang berjudul Light on Twilight Phenomena.

Di dalam buku tersebut banyak dibahas mengenai senja dan tata surya. Berikut adalah beberapa teori yang dikembangkan oleh Ibnu Haitsam yaitu teori optik yang di dalamnya membahas cermin cekung dan cembung dan teori pembiasan cahaya yang kemudian dikembangkan oleh ilmuwan barat.

Selain itu cendekiawam muslim ini juga menggabungkan unsur tasawur dengan sains. Berikut adalah penjelasan Ibnu Haitsam seperti yang dikutip dari jurnal berjudul Tasawur Pemikiran Saintifik Ibn al-Haytham karya Mohd Syahmir dari Universitas Sains Malaysia.

Tasawur adalah pengetahuan atau gambaran seseorang terhadap sesuatu yang tidak memberikan penilaian atau penghakiman terhadap sesuatu tersebut.

Baca Juga  UAS: Kota Ambon Layak Dijadikan Contoh Toleransi

1. Menekankan Unsur Tauhid

Menurut Ibnu Haitsam, sains sangat dekat dengan kuasa Allah SWT. Beliau memaparkan bahwasannya tauhid dan sifat ubudiyyah (mendekatkan diri pada Allah) membuat dirinya taat dan patuh terhadap kehendak Allah SWT.

Dari pemikiran tersebut mengarahkan Ibnu Haitsam menjadi semangat dari mengembangkan penelitian. Ibnu Haitsam juga sering menuliskan bismillah pada setiap karya tulisnya.

Ibnu Haitsam juga menuliskan pujian-pujian lain di akhir tulisannya seperti puji-pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat baginda.

2. Menekankan Unsur Akhlak

Ibnu Haitsam menggarisbawahi tiga perkara penting dalam etika penelitiannya. Dimulai dari inputnya mencari ilmu pengetahuan.

Dalam mencari ilmu pengetahuan harus memahami akidah yang jelas dan melakukan amalan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Ketika berakhlak baik dalam mencari ilmu pengetahuan akan memberikan output yaitu kebahagian abadi di akhirat kelak.

Baca Juga  Chaidir Djafar Anggota DPD Dapil Maluku Utara Meninggal Dunia

3. Menekankan Unsur Kebenaran

Cendekiawan muslim ini sangat menekankan unsur tauhid dan akhlak untuk mencapai mardhatillah. Hasil tasawur pemikiran saintifik tersebut membentuk keinginan untuk mencari kebenaran. Tujuan Ibnu Haitsam mencari ilmu pengetahuan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibnu Haitsam berpegang teguh untuk memberikan kebaikan dan manfaat kepada pencari kebenaran, menyatakan persoalan yang berada dalam pemikirannya, dan menjadi bekal untuk hari tua.

Itu tadi adalah salah satu kisah cendekiawan muslim Ibnu Haitsam yang berjasa di dunia muslim dan barat. Semoga pemikiran-pemikiran beliau menjadi inspirasi.

(red/dtc)

No More Posts Available.

No more pages to load.