Kebijakan koersif untuk menghapus identitas khas Tibet, mulai dari bahasa, agama, hingga budaya, telah lama dijalankan oleh pemerintah China yang dipimpin Partai Komunis China (PKC). Setahun lalu, China memerintahkan warga desa di wilayah Ngaba, Tibet, untuk menurunkan dan menghancurkan simbol-simbol keagamaan dari bagian luar dan atap rumah mereka, termasuk bendera doa. Larangan juga diberlakukan terhadap doa keagamaan daring yang diselenggarakan melalui media sosial.
“Individu yang menginisiasi sesi doa tersebut dipanggil untuk diinterogasi oleh otoritas China,” ujar seorang sumber dari Tibet.
Kampanye Sistematis China
Citra satelit menunjukkan China menghapus mantra suci “Om Mani Padme Hum” yang diukir di bebatuan perbukitan dan menggantinya dengan bendera China. Para penggembala nomaden Tibet dipaksa mengganti bendera doa Mani dengan bendera China serta mengikuti sesi pendidikan politik.
“Ada kekhawatiran besar terkait cara pemerintah China menjalankan pendidikan politik ini, termasuk memaksa warga mengibarkan bendera China dan memasang potret para pemimpin Partai Komunis di rumah mereka,” kata Pema Gyal, peneliti di lembaga Tibet Watch yang berbasis di London.
Selama pandemi Covid-19, aparat China mulai menjalankan kampanye sistematis untuk menurunkan bendera doa Mani di seluruh Tibet. Kebijakan sinifikasi, yang bertujuan mengasimilasi warga Tibet ke dalam budaya dominan Han China, dilaporkan semakin diperketat dalam satu dekade terakhir. Mereka yang menentang pembuangan bendera doa secara paksa dilaporkan ditangkap dan disiksa.









