Implikasi Terhadap ASEAN dan Indonesia.
Indonesia akan mengalami implikasi dalam setiap kebijakan atas Laut China Selatan tersebut. Lihat saja semakin seringnya kapal nelayan China bebas memasuki ZEE Indonesia di Laut Natuna Utara, dan dikawal ketat oleh Coast Guard China. Juga beberapa armada China telah melintasi Selat Malaka hingga Selat Sunda dan ditemukannya drone atau sea glider pengumpul data bawah lauh yang diduga milik China tersebut, menandai bahwa Indonesia semakin rentan di susupi. Drone (sea glider) yang ditemukan nelayan di Selat Karimata, Masalembo hingga perairan Pulau Silayar, jelas bukanlah sebuah kebetulan. Sejak lama kawasan ini menjadi incaran. Sterling Seagrave yang menulis The Invisible Empire of The Overseas Chinese, Lords of the Rim (1995), menguraikan setiap wilayah Asia Tenggara yang telah berabad-abad didatangi imigran China dan mereka menjadi Taipan yang menguasai kehidupan ekonomi kawasan ini.
Seagrave bahkan menulis bab khusus tentang Indonesia, yang disebutnya sebagai kawasan bermain ikan paus. Karena pada 11 negara ASEAN dengan penduduk 668.619.840 jiwa, Indonesia memiliki sumberdaya alam terbesar diantara 11 bangsa-bangsa ASEAN tersebut. Dengan wilayah terluas dan penduduk sebanyak 273.523.615 jiwa, akan menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi sekaligus pangsa pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara. Sebutlah Konawe, Morowali dan Halmahera, sebagai investasi nikel terbesar yang sementara dilakukan China di Indonesia, untuk menyuplai bahan baku baterai lithium terbaik dunia bagi industri mobil listrik. Namun Indonesia sendiri, masih jauh dari sejahtera. Bahwa kekayaan sumber daya alam, bukanlah taken for granted, karena kita masih saja mempersoalkan parameter makna kesejahteraan itu sendiri. Dalam catatan Purwo Santoso, pengajar senior UGM, menyebutkan perlunya kebijakan berwatak transformatif, yang tidak sekedar kebijakan prosedural (lihat: Mitos Tambang untuk Kesejahteraan, Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan. Hendra Try Ardianto. 2016). Bahkan Tesla Shanghai Motor telah menargetkan 1 juta produk mobil listrik pertahun.




