Sebaliknya dalam pandangan Amerika Serikat, sejak tesis Huntington dan diteruskan oleh Robert D. Kaplan, masih mempertahankan hegemoni dunia yang telah dipegangnya sejak berakhirnya Perang Dunia II. Kaplan jelas menyebut battleground masa depan dunia akan berada pada kawasan maritim. Dan kontestasi itu akan terjadi di Laut China Selatan, ungkap Kaplan, seorang koresponden militer Amerika tersebut. Dan kini, dua kekuatan sementara berhadap-hadapan. Trans Pacific Partnership (TPP), yang dibatalkan sepihak oleh Trump, kini diadopsi lagi oleh Joe Biden, untuk mengimbangi hegemoni BRI (OBOR) China. Kaplan menyebut Amerika takkan mudah melepas hegemoni yang telah dinikmatinya selama ini (lihat: The Return of Marco Polo’s World: War, Strategy, and American Interest in the Twenty-first Century. Robert D. Kaplan. 2018). Termasuk memperkuat kedudukan Taiwan dalam menghadapi China. China juga telah membangun pangkalan militernya di Jibouti sejak 2015 dengan berbasis diplomasi The New Silk Road tersebut.
Kontestasi kawasan ini, secara substantif, telah ditulis oleh Sam Ratulangi pada 1937, sebelum Indonesia merdeka (Indonesia di Pasifik). Gubernur pertama Sulawesi pada awal kemerdekaan Indonesia ini adalah seorang futurolog, karena apa yang digambarkannya sekarang hadir didepan mata kita. Sam Ratulangi menyebutkan bahwa economic nessecity akan menjadi titik picu perebutan hegemoni kawasan Pasifik ini. Indonesia, sebagai negara konsumen sekaligus sumber bahan mentah terbanyak dan tujuan penaman modal, akan menjadi ajang perebutan kekuatan hegemoni pasar dunia. Jika Indonesia gagal mengembangkan kemandirian industri berbasis ipteknya dan memperkuat ketahanan dalam negerinya, akan melemahkan posisi tawar Indonesia dimata para taipan besar yang sementara melebarkan sayap untuk memperluas hegemoninya. Sam Ratulangi misalnya mencatat periode 1930 hingga 1935, Indonesia memiliki kelebihan ekspor sebesar 1.213 juta gulden. Namun uang sebesar itu tidak mengalir ke Indonesia, tapi ke negara penjajah Belanda. Ekonom UGM Revrisond Baswir (2013), dalam kajiannya menyatakan neo-kolonialisme masih bercokol di negeri ini, seakan VOC masih tetap eksis hingga sekarang. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa Indonesia mengalami kontraksi ekonomi terburuk dalam 150 tahun terakhir (Kompas, 6 April 2021). Padahal kawasan ini, telah memberikan kontribusi sejak beabad-abad silam, bagi peradaban dan ekonomi dunia. Tantangan Indonesia, bukan sekedar sebagai bangsa pengingat belaka, mengutip sejarawan senior UI Susanto Zuhdi, namun harus menjadi bangsa pencatat. Rempah-rempah telah berhasil menyatukan Indonesia pada masa lalu, namun kita tak boleh terus menerus terbuai dengan romantisme ingatan, dan lupa untuk menatap realitas hari ini sekaligus merangkai masa depan. Karena para gajah tengah bertarung dihalaman depan rumah kita, bakal mengusik rumah kita. Adagium lama civic pacem para bellum, jika ingin damai maka bersiaplah perang, akan berlaku. Menghadapi transisi global power ini, mungkin benar kata Sun Tzu dalam The Art of War: if you know the enemy and know yourself, you need not to fear the result of a hundred battles. If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat. Lanjut Sun Tzu: if you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle (China’s World. What Does China Want. Kerry Brown. 2017).




