Data Besar, Nasib Berceceran

oleh -77 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Siapa menguasai pusat data, dia menguasai masa depan kecerdasan buatan. Maka Musk perlahan bergeser. Dari pemain AI menjadi tuan tanah AI. Dari pendekar gelanggang menjadi pemilik stadion. Dari penjual mie menjadi pemilik ruko dan parkiran sekaligus.

Dan itu lebih mengerikan. Karena AI modern bukan hidup dari udara dan doa orang saleh. Ia hidup dari tiga hal: data, listrik, dan GPU. Semuanya mahal. Semuanya rakus energi. Semuanya membutuhkan skala yang hampir tidak masuk akal.

Bayangkan satu pusat data berisi ratusan ribu GPU Nvidia bekerja siang malam seperti ribuan santri sedang menghafal kitab tanpa tidur. Panasnya luar biasa. Konsumsi listriknya bisa menyaingi kota kecil. Dan semua itu dibangun hanya untuk melatih mesin agar bisa menjawab pertanyaan seperti: “Apa tanda isteri masih sayang?”

Baca Juga  The Economist Soroti Pemerintahan Prabowo, Singgung Risiko Ekonomi dan Demokrasi Indonesia

Manusia memang spesies yang aneh. Tetapi di situlah nilai ekonomi terbesar abad ini lahir. Data bukan lagi sekadar arsip. Data telah menjadi bahan bakar geopolitik, ekonomi, militer, budaya, bahkan ideologi.

Amerika paham. China paham. Eropa mulai sadar. Kita? Kita masih sibuk berdebat soalnya haramnya fotokopi KTP.

Padahal Indonesia adalah surga data yang belum dipanen serius. Penduduk ratusan juta. Bahasa beragam. Tradisi kaya. Kebiasaan unik. Percakapan digital melimpah. Ceramah agama ribuan jam tiap hari. Manuskrip kuno bertumpuk. Budaya lokal berlapis-lapis.

No More Posts Available.

No more pages to load.