Data Besar, Nasib Berceceran

oleh -102 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Tapi semuanya tercerai-berai seperti gudang perpustakaan yang habis diterjang banjir.

Data kementerian tidak nyambung dengan data lembaga lain. Arsip budaya masih banyak jadi PDF mati. Manuskrip rusak dimakan rayap. Rekaman bahasa daerah hilang pelan-pelan bersama wafatnya generasi tua.

Bahkan kadang negara lebih cepat mendata pelanggaran warganya daripada mendata pengetahuan bangsanya sendiri.

Ironis sekali. Kita ini negeri besar yang hidup di atas gunung emas digital, tetapi sibuk menjual cangkul.

Lucunya lagi, banyak orang masih mengira data hanyalah urusan statistik dan administrasi. Padahal data adalah memori peradaban. Kalau data kita dikuasai pihak lain, lama-lama cara berpikir kita pun ikut dipetakan, diprediksi, lalu diarahkan.

Baca Juga  Perkuat Persatuan Warga Maluku di Tanah Papua, Obor Pattimura Menyala di Yapen

Hari ini AI belajar dari bahasa manusia. Besok AI belajar dari budaya manusia. Lusa AI bisa menentukan budaya mana yang dianggap relevan dan mana yang perlahan dilupakan.

Maka jangan heran kalau nanti anak-anak lebih mengenal mitologi Marvel daripada hikayat Nusantara. Bukan karena budaya kita jelek, tetapi karena budaya kita tidak pernah benar-benar masuk ke mesin masa depan.

AI hanya bisa mengingat apa yang didigitalkan. Yang tidak terdokumentasi akan dianggap tidak pernah ada. Di sinilah tragedi besar kita.

No More Posts Available.

No more pages to load.