Dead Load: Menimbang Genteng di Saat Genting

oleh -444 views

Oleh: Alip Purnomo, Direktur Eksekutif IndexPolitica

Indonesia bukan sekadar negara berkembang. Indonesia adalah laboratorium bencana. Berdiri di atas Ring of Fire, negeri ini setiap tahun diguncang gempa, erupsi, dan pergerakan lempeng yang tak pernah benar-benar tidur. Dalam konteks seperti ini, setiap rumah yang dibangun rakyat sejatinya adalah pertaruhan antara keamanan dan maut.

Karena itu, setiap kebijakan yang menyentuh struktur hunian rakyat tidak boleh diputuskan hanya atas dasar estetika, persepsi “lebih beradab”, atau standar kenyamanan semata. Ia harus diuji dengan satu pertanyaan mendasar: apakah ini membuat rakyat lebih aman saat bencana datang?

Program penggantian atap seng menjadi genteng tanah liat yang belakangan mengemuka perlu ditempatkan dalam kerangka tersebut. Dari sisi kenyamanan termal dan akustik, genteng tanah memang unggul—lebih sejuk, lebih senyap, dan secara visual dianggap lebih mapan. Namun dalam perspektif teknik struktur di zona gempa, persoalannya jauh lebih kompleks.

Beban di Atas Kepala

Baca Juga  Ubaid Yakub Lantik Kabag Dokpim dan Sekretaris Dispora Haltim

Dalam ilmu konstruksi dikenal istilah dead load—beban mati—yakni berat permanen yang setiap saat ditanggung struktur bangunan. Genteng tanah memiliki berat rata-rata 40–60 kilogram per meter persegi. Untuk rumah sederhana tipe 36, total beban atap bisa mencapai 2–3 ton.

No More Posts Available.

No more pages to load.