Di Balik Jendela

oleh -62 views

Cerpen Karya: Etik Septi Virgianthi

PERTAMA kali aku melihatmu, sungguh aku seperti memahami apa yang kamu rasa saat itu. Kamu yang selalu mencoba kuat dan mencoba meyakinkan orang-orang disekitarmu bahwa kamu bisa diandalkan dan dipercaya. Itulah yang membuatku penasaran, siapa kamu?

Aku terus memperhatikanmu di balik jendela, aku ingin sekali menyapamu dan bertanya siapa namamu, tapi aku tidak bisa, sekali lagi aku tidak bisa. Entah kenapa, seakan aku menjadi seorang yang bisu, tidak tahu kata apa yang harus aku ucapkan untuk menyapamu.

Aku suka melihat kamu menyapu di depan rumah, aku suka melihat kamu pergi keluar dengan motormu, aku suka mendengar suaramu bercengkrama saat bersama keluarga atau teman-temanmu dan aku suka saat kamu sedang mengelus anjing peliharaanmu. Aku suka karena pada saat itulah aku bisa melihatmu walau sebentar.

Beruntung tempatku bekerja berada tepat di depan rumahmu, jadi saat aku suntuk dan penat, kamu bagaikan lukisan indah yang membuat hatiku tenang. Aku mulai merasa nyaman disini, ternyata tempat yang sunyi dan hening jauh dari kebisingan suara kendaraan yang berlalu-lalang tidak terlalu buruk buatku.

Untuk pertama kalinya, aku membenci saat aku libur kerja. Ya, sepertinya jiwa pekerja kerasku mulai bangkit lebih tepatnya bekerja keras untuk mencari tahu siapa namamu? hehe. Candu. Aku rasa, aku sudah mulai gila. Sebegitunya memikirkan kamu yang padahal kamu saja tidak tahu ada aku di sana.

Baca Juga  Anak Perempuan 8 Tahun Dilaporkan Mati Kelaparan di Kota Gaza

Suatu hari, aku ingin sekali makan lumpia ditengah-tengah jam makan siangku. Aku mencoba keluar pintu berharap pedagang lumpia keliling lewat. Lalu, terdengar suara motor dari kejauhan. “Semoga itu pedagang lumpia” ucapku dalam hati. Saat suara motor itu mulai mendekat. Ternyata bukan pedagang lumpia yang lewat tapi kamu, orang yang selama ini aku perhatikan di balik jendela. Kamu melihatku, akhirnya kamu melihatku. Mata kita saling bertemu. Tapi, tetap saja aku tidak bisa menyapamu, tersenyum pun susah buatku, cepat-cepat aku kembali bekerja karena pipiku mulai memerah karena salting. Walaupun aku tidak bisa makan lumpia pada saat itu, setidaknya kamu tahu ada aku.

Hari-hari berikutnya aku mulai mencoba berani menyapamu dari jauh dengan cara melambai-lambaikan tanganku agar kamu berpindah pandangan ke arahku, tapi kamu tidak lihat. Sedih. Aku coba lagi berkali-kali. Akhirnya kamu melihatku, langsung saja aku tulis sebuah kalimat di kertas HVS yang bertuliskan “Siapa nama kamu?” dan dengan semangatnya aku mengangkat kertas itu agar kamu membacanya. Lalu kamu bilang pakai bahasa isyarat “Aku tidak bisa baca tulisan itu, kamu keluar saja dulu”. Aku menuliskan ulang dengan membesarkan ukuran tulisanku dan menebalkannya agar kamu bisa membacanya. Tapi, lagi-lagi kamu memberi isyarat kalau tulisanku tidak terbaca dan menyuruhku untuk keluar sebentar. Sayangnya, ada bosku datang, jadi aku tidak bisa keluar untuk menanyakan namamu secara langsung. Kejadian saat itu sangat unik buatku, karena komunikasi kita pakai bahasa isyarat.

Baca Juga  Firasat Orang Tua Septian Sebelum Helikopter Jatuh di Hutan Halmahera

18 Januari 2023, tanggal ini mungkin kamu tidak ingat apa yang terjadi tapi aku masih menyimpan kenangan itu diarsip story ig ku. Pada tanggal itu kamu sedang membeli es krim di depan rumahmu, ketika itu aku spontan ingin es krim juga, dan kamu pun menawarkanku “mau beli juga?” katamu. Saat itu aku mencoba untuk tetap terlihat tenang padahal aslinya sudah salting gak karuan. Aku pun membalas “Iya, berapa harga es krimya?”, lalu kamu hanya menunjukan 2 jari yang artinya dua ribu rupiah. Aku pun bergegas mengambil uang dan langsung keluar untuk membeli es krim juga. Tapi saat aku hendak membayar es krimku, ternyata kamu sudah membayarkannya. “Terima kasih yaa” kataku. Aku pun segera pergi ke ruang kerja, saking gugupnya tidak ada kata basa-basi yang terlintas dibenakku, padahal kamu berada sedekat itu denganku. Aku sangat senang hari itu. Aku bisa melihat senyum lebarmu yang manis.

Saat aku pulang kerja kamu menyuruhku untuk tunggu kamu di warung depan pertigaan jalan, kemudian aku pun ke warung itu dan kamu menyusul aku. Sungguh aku deg-degan saat itu, aku berusaha tenang agar tidak terlihat salting didepannmu. Kita saling bersalaman dan kamu berkata “namamu siapa?”. Aku pun menjawab “Karin”. Lalu, aku juga menanyakan hal yang sama “kalau nama kamu siapa?”. Kamu menjawab “Defra”. Setelah perkenalan itu kamu meminta nomor ponselku. Tanpa pikir panjang, aku pun memberitahumu nomor ponselku. Akhirnya sejak saat itu, aku tahu namamu. Aku pulang dengan wajah yang penuh dengan bunga-bunga. Bahagia sekali rasanya. Aku tidak henti-hentinya tersenyum di hari itu.

Baca Juga  9 ASN Kemenag Kota Ternate Dilantik Dalam Jabatan Fungsional

Hari demi hari kita jadi makin dekat, dan resmi pacaran. Kita saling berbagi cerita masa lalu, keseharian sampai hal-hal yang ingin kita capai di masa depan. Hubungan kita terlihat baik-baik saja walaupun pasti ada cek-coknya sedikit. Tapi makin lama kita terlihat sangat berbeda. Kita mulai menyadari cara memandang dunia kita berbeda yang sulit untuk disatukan. Ego kita sama-sama kuat. Semakin kita saling ingin memiliki, semakin kita saling menyakiti satu sama lain. Kita masih belum bisa mengendalikan diri kita masing-masing. Rasa sayang yang terlalu kuat hampir membuat kita hilang arah. Satu-satunya jalan agar kita bisa saling mengerti kembali tentang diri sendiri adalah berpisah. Kita sepakat untuk putus.

Jujur, aku sedih dengan kenyataan ini. Nafsu makanku mulai menurun, aku mencoba mencari kesibukan dan hiburan agar aku bisa menerima keadaan kita yang tidak bisa bersama. Perlahan-lahan aku mencoba ikhlas, walau kita tidak bisa bersama setidaknya aku masih bisa melihatmu baik-baik saja di balik jendela.

I Love You, semoga kita bisa menemukan sosok terbaik yang buat kita lebih memahami diri sendiri. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.