Di Simpang Dunia

oleh -59 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Padahal dalam dunia multipolar hari ini, logika itu mulai usang. Negara-negara tidak lagi mencari “rumah”, tapi “alat”. Mereka tidak lagi bergabung untuk tunduk, tapi untuk memanfaatkan.

Di sinilah sering terjadi salah paham paling klasik: ketika sebuah negara seperti Indonesia masuk ke satu forum atau blok, misalnya BRICS, publik buru-buru mengira itu tanda kesetiaan. Padahal bisa jadi itu hanya langkah kalkulasi.

Para analis seperti Andrew Korybko sudah lama mengingatkan: mengira BRICS sebagai aliansi militer itu seperti mengira arisan ibu-ibu sebagai latihan militer cadangan.

Anda tahu, istilah BRIC pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Goldman Sachs, Jim O’Neill, di awal 2000-an—merujuk pada Brazil, Russia, India, dan China sebagai kekuatan ekonomi baru yang sedang naik daun. Afrika Selatan datang belakangan, melengkapi akronim itu menjadi BRICS.

BRICS sejak awal adalah alat koordinasi finansial — bukan NATO versi Timur. Bahkan Rusia sendiri, melalui sherpa-nya, menegaskan hal itu. Artinya, ketika Indonesia masuk BRICS, ia tidak menyerahkan kunci kedaulatan ke Beijing atau Moskow. Ia hanya menambah satu laci baru di lemari strategi nasionalnya.

Baca Juga  Penetapan Tersangka Kasus Jalan Labuha–Panamboang Tunggu Hasil Audit Kerugian Negara

Di sinilah kita mulai melihat pola. Indonesia bukan sedang memilih jalan. Indonesia sedang membuka semua jalan, sambil memastikan tidak ada pintu yang bisa dikunci dari luar.

No More Posts Available.

No more pages to load.