Di Simpang Dunia

oleh -53 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Bayangkan satu negeri yang dalam sepekan tampak seperti sedang “berkhianat” kepada semua pihak — atau justru setia kepada semuanya sekaligus. Indonesia meneken kerja sama militer dengan Amerika Serikat, lalu terbang ke Moskow bertemu Vladimir Putin.

Di saat yang sama, membeli sistem rudal BrahMos — produk kolaborasi Rusia–India — sambil berbisik menangguhkan keterlibatannya dalam Board of Peace yang digagas Donald Trump. Ini bukan naskah film mata-mata. Ini Indonesia, edisi 2026.

Sekilas, semua yang dimainkan Presiden Prabowo Subianto akhir-akhir ini tampak seperti kebingungan akut. Seperti sopir angkot yang menarik setir ke kiri dan kanan sekaligus — dan anehnya, tetap melaju.

Tapi tunggu dulu. Dalam ilmu hubungan internasional, ada satu istilah yang menjelaskan semua gerakan ini dengan dingin, tenang, dan nyaris tanpa emosi: hedging.

Baca Juga  5 Zodiak yang Tidak Suka Mengejar Cinta

Dalam literatur kontemporer, hedging dipahami sebagai strategi menyeimbangkan risiko tanpa harus sepenuhnya beraliansi. Bukan galau. Bukan plin-plan. Ini seni bertahan hidup di dunia yang tak lagi punya satu pusat gravitasi.

Masalahnya, banyak orang masih membaca dunia dengan kacamata lama: seolah setiap negara harus memilih kubu, seperti memilih klub sepak bola — sekali masuk, harus setia seumur hidup.

No More Posts Available.

No more pages to load.