Doktrin Monroe Runtuh

oleh -1,065 views
Ahmadie Thaha/Ist

Angka-angka memperjelas paradoksnya. Ekonomi Venezuela menyusut sekitar 70–75 persen sejak 2013; hiperinflasi pernah menembus jutaan persen; enam hingga tujuh juta warganya bermigrasi. Produksi minyak jatuh dari lebih tiga juta barel per hari menjadi sekitar tiga perempat juta.

Namun negara itu tidak runtuh total. Mengapa? Karena ekspor minyak tetap mengalir melalui kanal alternatif—logistik dan perantara Rusia, sistem non-dolar—yang cukup untuk membiayai aparatus kekuasaan.

Militer Venezuela, yang telah membeli belasan miliar dolar perangkat Rusia sejak 2000-an, mengoperasikan jet tempur, helikopter, dan pertahanan udara canggih. Bahkan pembom strategis Rusia berjangkauan jauh sempat berlatih di pangkalan Venezuela—adegan yang dulu hanya ada di album nostalgia Perang Dingin.

Baca Juga  Rektor Unpatti Dorong Mahasiswa Jadi Wirausahawan Inovatif dan Berdaya Saing

Dari sudut pandang Caracas, semua ini adalah konfirmasi: perlindungan itu nyata. Dari sudut pandang Washington, pilihan menyempit. Eskalasi militer berisiko konflik langsung dengan Rusia; eskalasi ekonomi memberi hasil kian menipis; isolasi diplomatik gagal karena Venezuela tidak lagi sendirian.

Inilah stalemate strategis: kekuatan besar masih ada, tetapi opsi yang dapat dipakai berkurang. Doktrin Monroe tidak ditantang dengan tembakan, melainkan digerogoti oleh kontrak perawatan, jadwal pelatihan, hak sandar, dan pengapalan minyak —fakta-fakta kecil yang, ketika menumpuk, tak bisa dihapus oleh pidato.

No More Posts Available.

No more pages to load.