Don’t Cry For Me Ukraine

oleh -331 views

Oleh: Ari Junaedi, Akademisi dan konsultan komunikasi

SUATU saat, di sebuah padang rumput yang tinggi, di mana domba dan anak-anaknya digembalakan, seekor elang sedang terbang memutar dan menatap anak domba dengan pandangan lapar.

Dan saat ia akan turun dan memangsa incarannya, elang yang lain muncul dan terbang di atas anak domba dengan pandangan penuh minat.

Lalu kedua elang itu mulai berkelahi dan memenuhi langit dengan teriakan mereka.

Dan si domba menengadah dengan terkesima. Ia berbalik ke arah anaknya dan berkata:

“Betapa anehnya, Anakku, bahwa dua burung yang terhormat ini harus saling menyerang. Tidakkah langit cukup luas untuk mereka berdua? Berdoalah, sayangku, berdoalah pada Tuhan agar kedamaian datang pada saudara-saudaramu yang bersayap.”

Dan anak domba berdoa dalam hati.

Kahlil Gibran begitu rancak menceritakan nafsu angkara perang antara dua ekor burung elang dalam karyanya “Perang dan Bangsa-Bangsa Kecil”.

Baca Juga  Waisak 2570 BE di Ambon, Permabudi Maluku Ajak Perkuat Perdamaian dan Toleransi

Ketika elang akan mencari mangsa domba-domba kecil, ternyata para elang terlebih dulu disibukkan dengan bertarung di antara sesama mereka.

Tidak ada frasa kalah atau menang dalam sebuah perang. Semua bisa mengklaim menang atau kalah menurut versinya masing-masing.

Perang hanyalah menunda sebuah persoalan yang jauh lebih besar, yakni hilangnya martabat kemanusian.

No More Posts Available.

No more pages to load.