Kata integrasi dan permintaan tokoh Timor Timur yang ingin bergabung dengan Indonesia, selalu didengungkan oleh rezim yang berkuasa ketika itu. Padahal Amerika Serikat-lah yang menjadi biang kerok “pencaplokan”.
Mendiang kakak saya yang pernah ikut Operasi Seroja kerap berkisah bagaimana trauma perang masih selalu membayanginya hingga jelang akhir hayatnya karena sakit tahun 1990.
Sebagai alumni Akabri 1974, mendiang kakak saya begitu mengingat kejadian salah tembak antarkesatuan di militer Indonesia.
Belum lagi informasi soal kondisi Timor Timur yang tidak diketahui dengan utuh serta perlawanan sengit dari warga Timor Timur.
Saat menjadi wartawan, saya kerap mengunjungi Timor Timur era 1997 – 1999.
Pandangan sinis kita sebagai penjajah dari warga begitu kerap saya terima di Los Palos, Viqueque, Bobonaro, Liquica, Bacau, Manufahi, Ermera, Lautem, Manatuto, Manufahi hingga Dili.
Padahal pemerintah kita saat itu begitu “royal” dan “menganakemaskan” Timor Timur dengan pembangunan fasilitas infrastruktur.
Tanah bisa kita rebut, tetapi “hati” warga tetap tidak bisa ditundukkan oleh kekuatan kapital. Timor Leste merdeka adalah jalan sejarah yang tidak bisa kita halangi.
Perang hanya mengobarkan perang lain
“Kita tidak butuh tumpangan, yang kita butuhkan hanyalah amunisi,” ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.










