Membayangkan perang antara Rusia dengan Ukraina yang terjadi sekarang ini, seperti menggambarkan betapa rentannya perdamaian dan kelanggengan nilai-nilai demokrasi yang telah diruwat dan dirawat selama ini.
Kemerdekaan yang diperoleh Ukraina usai bubarnya Uni Sovyet menjadi “muspro” ketika “elang” yang bernama Rusia ingin mencaplok kembali kedaulatan Ukraina.
Ketika elang Rusia menyergap Ukraina, bersegeralah “elang-elang” yang lain bernama Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman serta anggota NATO lainnya siap berduel.
Belum lagi elang Rusia bisa mengajak Chechna dan China di gerombolan yang sama.
Perang juga mengajarkan kepada kita semua, betapa kemusnahan menjadi keniscayaan. Perang tidak mengenal sekat agama, suku dan batas teritori.
Chechnya membantu Rusia, sedangkan Turki malah berpihak ke Ukraina.
Perang begitu absurb. Perang bisa melumat siapa saja. Nilai-nilai kemanusian menjadi rapuh, serapuh nafsu kekuasaan yang berkelindan dengan aneka kepentingan.
Jika dalam konteks kebangsaan, saya begitu risau dan galau dengan nasib 154 warga Indonesia yang tengah bergulat dalam ketidakpastian di Kiev, Odessa serta kota-kota yang lain di Ukraina.
Saya begitu sulit membayangkan kegamangan mereka di tengah kecamuk perang yang membabi buta. Saya sedih dengan ketersediaan pasokan pangan dan minum untuk mereka.










