DPRD Kota Ambon Minta Pihak RSUP Leimena Batalkan Pemecatan Dua Pegawainya

oleh -275 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Dua orang pegawai RSUP dr. J. Leimena mengadukan nasib mereka ke DPRD Kota Ambon, karena dipecat oleh pihak rumah sakit, Kamis (1/4/2021).

Direktur Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr.J. Leimena Kota Ambon oleh keduanya dinilai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak.

Mendapat keluhan kedua pagawai RUSP itu, Ketua Komisi I DPRD Kota Ambon, Zeht Pormes, lantas memberi waktu paling lama satu pekan kepada pihak rumah sakit untuk segera membatalkan surat pemecatan terhadap kedua staf administrasi Tata Usaha (TU) tersebut.

“Kita kasih waktu satu minggu kepada direktur RSUP Leimena untuk menarik kembali surat pemecatan itu. Kalau beliau tidak menarik surat pemecatan itu, maka kami akan mengudang pihak rumah sakit ke DPRD untuk menanyakan hal ini,” tegasnya usai melakukan pertemuan dengan kedua pegawai yang dipecat.

Menurut Pormes, surat pemecatan itu tidak sesuai dengan kebijakan dan Improsedural, sehingga direktur utama harus menarik kembali surat pemecatan itu.

Baca Juga  Ketua Komisi II DPRD Halbar Minta Tim Penanganan Covid-19 Kerja Maksimal

“Karena ada surat juga dari salah satu direktur yang meminta atau memberikan pertimbangan direktur utama agar tidak memecat mereka tapi melakukan pembinaan dan sebagainya, tetapi masukan itu tidak diindahkan oleh direktur utama,” bebernya.

“Untuk itu saya meminta kepada yang terhormat Direktur RSUP dr. J. Leimena untuk menarik surat pemecatan itu dan melakukan pembinaan kepada kedua staf. Karena keputusan pemecatan itu improsedural,” jelas Pormes.

Sementara itu, kedua pagawai yang di PHK (WW) dan (NS) ketika dimintai keterangannya menjelaskan bahwa, sebenarnya mereka sendiri tidak tahu apa kesalahan mereka, karena mereka bekerja sesuai prosedur yang ada, terkait surat masuk, surat keluar, semua sudah didesposisi, bahkan juga laporan setiap bulan dilaporkan.

Baca Juga  Pesparani, panitia nyatakan persiapan 70%

“Sebenarnya kita tidak buat salah, kita kerja sesuai prosedur, tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba pada saat rapat kita diberi tahu kita akan digantikan, makanya kita jua kaget. Tapi kita pikir bisa aja, pasti ada hati nurani dari bapak untuk kerja lebih baik dari hari sebelumnya,” ujar keduanya.

Hal yang menurut mereka berdua juga tidak wajar adalah, mereka tidak pernah menerima surat teguran.

“Tidak ada SP 1, SP 2, SP 3, tidak ada. Penilaian kinerja untuk lanjutkan kontrak juga tidak ada,” ujar mereka. (nicolas)

No More Posts Available.

No more pages to load.