EASTERLIN PARADOX “Kaya tidak Identik dengan Bahagia”

oleh -512 views

Ini bukan sekadar ironi statistik. Ini gejala penyakit jiwa kolektif yang ditutup-tutupi dengan pertumbuhan ekonomi. Kita terlalu sibuk membangun gedung tinggi, tapi lupa bahwa yang juga kita perlukan adalah makna—bukan sekadar kemajuan.

Beberapa ekonom, seperti Betsey Stevenson dan Justin Wolfers, mengritik “Easterlin Paradox.” Mereka bilang pendapatan dan kebahagiaan tetap berkorelasi positif dalam jangka panjang, meski tidak terlalu kuat.

Mereka menggunakan dataset global yang lebih luas dan menyimpulkan bahwa “lebih banyak uang memang membawa lebih banyak kebahagiaan, meski efeknya mengecil.”

Tapi tesis utama Easterlin tidak runtuh: bahwa kebahagiaan itu relatif dan adaptif. Correlation is not causation. Kalaupun ada korelasi, bukan berarti itu kausal. Banyak faktor lain yang bisa ikut meningkatkan kebahagiaan nasional—misalnya kesehatan, demokrasi, hubungan sosial—yang tak bisa diwakili oleh angka GDP semata.

Easterlin tetap kukuh pada pendiriannya. Dalam berbagai wawancara hingga usia tuanya, ia menekankan bahwa kebijakan pembangunan harus memprioritaskan kesejahteraan psikologis dan sosial, bukan hanya indikator ekonomi.

Baca Juga  Heboh Kemunculan SUV Eropa Seharga Rp 200 Jutaan, Mesinnya Turbo

***

Jika Easterlin benar — dan bukti-bukti pendukungnya makin banyak — maka mungkin kita sedang melangkah di jalan yang rapuh. Indonesia masih mengukur kemajuan dengan angka PDB, indeks daya beli, dan konsumsi domestik.

No More Posts Available.

No more pages to load.