EASTERLIN PARADOX “Kaya tidak Identik dengan Bahagia”

oleh -497 views

Menurut Easterlin, ada dua mekanisme psikologis yang membuat hal itu bisa terjadi. Pertama, adaptasi hedonis, yaitu kecenderungan manusia untuk cepat terbiasa dengan segala bentuk kemewahan atau kenyamanan baru.

Mobil pertama bikin kita bahagia. Mobil kedua terasa biasa. Mobil ketiga tidak lagi membuat kita merasa lebih “hidup”. Standar kita naik, tapi kebahagiaan tidak ikut menanjak. Orang terus mendaki gunung ekspektasi tanpa pernah sampai ke puncaknya.

Kedua, perbandingan sosial. Kita merasa cukup bukan karena benar-benar cukup, tapi karena lebih cukup dibanding orang lain. Maka ketika pendapatan semua orang meningkat serentak, posisi relatif kita tetap sama. Ego tidak merasa unggul, dan perasaan bahagia pun mandek.

Baca Juga  Bayi 7 Bulan Tewas Ditembak di Tepi Barat, Militer Israel Sebut Masih Diselidiki

“Inilah yang membuat masyarakat modern seperti terjebak di dalam treadmill kebudayaan: berlari makin cepat tanpa bergerak ke mana-mana,” kata Easterlin. “Semua orang ingin lebih, tapi tak seorang pun merasa sudah cukup.”

***

Paradoks ini sangat relevan dengan dunia hari ini. Lihatlah Amerika Serikat, negeri dengan GDP tertinggi di dunia, tetapi sekaligus dengan tingkat depresi dan bunuh-diri yang mengkhawatirkan.

Atau Korea Selatan, yang punya infrastruktur digital terbaik, namun mencatat angka tekanan psikologis tertinggi di Asia Timur, seperti juga Jepang (setidaknya di era sebelumnya).

No More Posts Available.

No more pages to load.