FINI Sambut Pembatalan Skema Gross Split Minerba, Dinilai Jaga Iklim Investasi Nikel

oleh -26 views
Ketua FINI, Arif Perdana Kusumah, menegaskan bahwa industri nikel saat ini membutuhkan stabilitas fiskal dan kepastian regulasi jangka panjang agar tetap kompetitif di tingkat global.

Salah satu yang paling berdampak adalah kenaikan harga sulfur akibat konflik geopolitik, termasuk perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz. Harga sulfur disebut melonjak dari sekitar US$400 per ton menjadi mendekati US$1.300 per ton.

“Lonjakan sulfur diperkirakan meningkatkan biaya produksi HPAL sekitar US$4.000 per ton nickel equivalent,” jelas Arif.

Ancaman bagi Proyek Smelter dan Hilirisasi

Kenaikan biaya tersebut sangat memukul industri berbasis smelter High Pressure Acid Leach (HPAL). Arif menyebut, banyak proyek saat ini berada pada margin EBITDA yang sangat tipis, bahkan sebagian sudah negatif.

Menurutnya, jika skema gross split tetap dipaksakan, hal itu akan semakin memperburuk kondisi industri.

“Dalam kondisi seperti ini, jika ada tambahan gross split dapat langsung membuat proyek baru maupun ekspansi menjadi tidak feasible,” tegasnya.

Baca Juga  Tarif Maba–Sofifi Naik, Warga Halmahera Timur Keluhkan Beban Transportasi

Ia juga mengingatkan, penerapan skema tersebut berpotensi menurunkan tingkat pengembalian investasi (IRR), memperpanjang masa pengembalian modal (payback period), hingga meningkatkan risiko pembatalan proyek.

Pemerintah Tegaskan Tidak Berlaku di Minerba

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, telah menegaskan bahwa skema gross split tidak akan diterapkan di sektor pertambangan.

Menurutnya, skema tersebut hanya berlaku di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas), sehingga tidak ada perubahan kebijakan untuk sektor minerba.

No More Posts Available.

No more pages to load.