Tiba-tiba Biru memperlihatkan pergelangan tangannya padaku, aku tersentak. Tangannya terlihat—transparan?
“Apa saya bilang? Kamu nggak aneh, kamu punya kemampuan itu, kemampuan istimewa yang tidak setiap manusia punya. Kamu bisa lihat saya, sementara mereka nggak bisa,” katanya tersenyum takzim. Aku baru menyadari kalimatnya saat tubuh itu sepenuhnya musnah, bagai debu tertiup angin. Melebur bersama partikel di udara.
—
“Bagusan gini, terurai. Kamu jadi lebih cantik, saya suka.” Kalimat itu lagi.
Tangisanku kian lebat, sama seperti hujan di luar sana. “Mawarnya nggak ikut musnah ‘kan?” aku mengangguk, sekali lagi ia tersenyum. Ucapannya terakhir itu terbukti, mawarnya tidak musnah, artinya dia juga mencintaiku, perasaanku berbalas.
“Maaf, saya cuma bisa datang walau akhirnya meninggalkan kamu. Tapi sepertinya, penantianmu setimpal ya La? Lala, gula jawaku sudah menemukan Tuan Senjanya. Bima lelaki baik La. Saya yakin, dia nggak akan bikin kamu nangis, nggak akan bikin kamu nunggu lama, dan yang penting nggak akan ninggalin kamu kayak saya.”
Hanya itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar dari Biru. Suara speaker terdengar nyaring, mengabarkan jika kereta dengan tujuan Bandung-Surabaya telah tiba. Seseorang menepuk bahuku, dia Bima—tunanganku, pemuda yang juga mau mengerti akan duniaku. Kami saling berpelukan lama hingga Bima mengajakku untuk keluar dari stasiun, aku menatap bangku itu lamat, di sana pemuda itu terlihat lagi, tengah melambai dan tersenyum simpul menatap kami. Selamat tinggal Biru, lelaki maya yang menjadi cinta pertamaku yang telah kubiarkan lepas, bebas, bersama dunianya.










