Di dalam tenda, saya menyaksikan hujan turun. Tetesen air hujan perlahan jatuh. Hening. Namun, cerita bagi pendaki gunung Gamkonora, bahwa ada danau yang berada di tengah-tengah gunung. Meski saat itu, danaunya kering. Kalau diperhatikan, luasan danau itu berbentuk seperti lapangan bola yang luas. Bila ada yang mengabadikan foto, terlihat indah seperti di waktu subuh dan menejelang sore.
“Tak lama, suara dari luar tenda bahwa akan makan malam bersama. Menu malam itu, ada nasi, ayam, sayur, tempe goreng, kerupuk. dan dabu-dabu manta. Ini kalau yang lain, dorang akan makan mie sudah,”canda Eza, panggilan akrabnya.
Sarapan malam itu, semuanya disiapkan oleh Eza. Ia adalah master chef, selama para pendaki ketika pergi bersama mereka dengan timnya. Yang pasti, tidak mie instan. Bagi saya, Eza memberi kami untuk bersyukur tanpa protes dari hasil racikan makanan.
Usai makan malam, beberapa teman lainnya, Inha, Chube, Indah, Hanin bersama suaminya bergegas masuk ke tenda. Sementara yang tersisa, hanya saya, bang Memhet, dan Eza. Kami masih menikmati kopi, sembari berdiskusi tentang pengalaman mereka sewaktu mendaki.
“Saya sudah berulang kali mendaki puncak gunung Gamkonora dan Dokuno. Bahkan beberapa gunung di Maluku Utara, ia sudah berulang naik-turun. Ada juga gunung di Jawa, ia telah sampai, salah satunya gunung semeru. Karena gunung tersebut, tantangannya luar biasa,”cerita Memhet.








