Langkah sempat berhenti. Gelap mulai tiba. Berlahan-lahan matahari tenggelam, dan gerimis dan dingin pun terasa. Warna merah bercampur kuning yang sedikit tertutup awan dan memancarkan cahayanya. Gerimis tak redah, hingga langit kembali gelap.
“Di dekat puncak, ada keramat batu bulat. Untuk para pendaki, tak bisa duduk di batu tersebut. Dan menurut cerita masyarakat di Gamkonora, batu tersebut adalah mesjid. Disampingnya, terdapat keramat yang berbentuk batu, yang di dalamnya ada uang koin. Tidak larang, bila ada yang beri uang koin di keramat tersebut maupun tidak,” ucap Canox.
Tiba-tiba dalam pantauan saya, indah, salah satu perempuan tangguh, dan agak gendut bersama bang Memhet dari jauh, berlahan pelan-pelan dalam kegelapan. Mereka berdua sedang menikmati perjalanan. Tak hanya itu, Hanin, bersama suaminya Aris pun sama. Bagi saya, walaupun ia masih di belakang, tapi dikawal oleh bang Memhet.
Malam di Gamkonora

Beberapa jam perjalanan, akhirnya kami tiba di puncak gunung Gamkonora. Malam itu, saya membantu teman-teman memasang tenda. Semua tenda yang terpasang berjumlah 5 tenda. Udara dingin pelan-pelan menusuk tubuh. Rasanya, lelah sudah terbayar. Tak berlama-lama, membuat saya harus pakai jacket. Saat memandang di lokasi lubang gunung, asap belerang terus naik, walau tertutup gelap.








