Gamkonora, Kenangan dan Air Mata

oleh -7 Dilihat

Indah, salah satu teman saya selalu menjadi bahan candaan, karena berada di paling belakang. Ia percaya diri, semangat, tanpa rasa takut, bila bersama dengan Bang Memhet. Tetapi ia merasa kenangan itu, harus berada dalam beban. Tak heran, setelah tiba di pos pertama, air mata mulai menetes. Dalam pikirannya,  ia merasa bersalah. 

“Indah di belakang itu, karena sudah kase (kasih) beban pe abang Memhet,”ucap indah pelan. 

“Indah, kami di tim, tidak pernah kase (kasih) beban pe orang. Karena itu menjadi tanggungjawab torang selama mendaki gunung,” tutur bang Memhet. 

Mendengar ucapan itu, kami semua memberi support kepada indah, agar ia kembali tak berpikiran. Beberapa jam kemudian, ia dan bang Memhet tiba di pos pengamatan hingga magrib dengan kondisi basah kuyup, dan tiba dengan selamat. Tak hanya dia, semuanya. 

“Teman-teman semua, segara naik ke mobil. Kita akan berangkat menuju ke Sidangoli dan balik ke Ternate,” ujar Canox. 

Baca Juga  Besok GMNIM Laporkan Kades Kairatu dan Exel Setiawan ke Kejati Maluku Terkait Dugaan Galian C Wai Riuwapa

Sebuah tanggungjawab, harus dimiliki semua orang dalam tim. Karena itu, kita butuh penyemangat antar sesama tanpa pandang bulu. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer,“Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan”. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.