Gelar Pesparani, terjaganya simbol kerukunan beragama di Maluku

@Porostimur.com | Ambon : Pada dasarnya masyarakat Maluku memiliki tradisi panjang dalam menegakkan kerukunan antarumat beragama yang merupakan warisan dari leluhurnya.

Terjadinya konflik Ambon tahun 1999 hingga 2004, lebih disebabkan karena adanya kepentingan politik dalam skala besar.

Saat berhasil dikonfirmasi wartawan, Rabu (17/10), hal ini dibenarkan Uskup Diosis Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi,M.Sc.

Menurutnya, kehidupan antar umat beragama telah lama terbina kebersamaan dan persaudaraan di Maluku karena adanya pranata-pranata sosial yang diwariskan para leluhur.

Bahkan, akunya, kerukunan antar umat beragama di Maluku ini telah terjadi sejak ratusan tahun lalu.

”Kita sudah belajar dari tragedi yang terjadi beberapa tahun lalu. Konflik itu terjadi itu karena umat beragama tidak rukun. Politiklah yang dilihat  jadi panglima, bukan agama. Kita lihat terjadi kehancuran di sini. Umat beragama di Maluku sudah belajar dan mau bertobat. Salah satu tanda pertobatan itu adalah Pesparani, selain MTQ dan Pesparawi,” ujarnya.

Pernyataan Mandagi ini turut dibenarkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku, DR. H. Abdullah Latuapo, yang berhasil dikonfirmasi terpisah.

Ketika bergulirnya konflik kemanusiaan di Maluku, akunya, banyak orang menjadi sangat terkejut.

Pasalnya, Maluku selama itu dikenal damai, aman dan nyaman, ternyata mampu tersapu oleh tragedi kemanusiaan yang begitu parah.

”Bukan hanya umat non-Muslim yang kaget, kita yang Muslim pun terkejut. Penelitian para ahli menyatakan banyak faktor yang menyebabkan konflik itu. Tetapi kita pada akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa faktor utamanya adalah politik. Sehingga banyak pemikiran-pemikiran dari luar mempengaruhi masyarakat kita. Suatu kejadian yang tidak kisa sangka-sangka,” jelasnya.

Pada dasarnya, tegasnya, masyarakat Maluku itu memang bersaudara.

Sama halnya dengan Suku Batak, terangnya, masyarakat Maluku pun mengenal dan masih menerapkan sistem marga.

Marga Patty misalnya, sebutnya, ada yang beragama Islam tetapi juga ada yang beragama Kristen.

Begitu pula halnya dengan marga lain seperti Manuputty, Toisuta dan marga-marga yang lain.

Dengan kegiatan MTQ dan Pesparawi yang sudah digelar sebelumnya, tegasnya, menjadi wadah dan sarana untuk merajut kembali persaudaraan yang sebenarnya sudah lama ada dan terpelihara.

Pasalnya, terangnya, belajar bagaimana pahitnya konflik sosial yang pernah terjadi menyadarkan masyarakat Maluku bersama pejabat pemerintah, termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat.

”Kembali rukun. Pesparani menjadi salah satu momen untuk lebih mempererat persaudaraan kita sebagai sesama manusia di Maluku, dan Indonesia pada umumnya. Kita saling menghargai, saling menghormati. Ini salah satu bentuk kerja sama kita,” tegasnya.

Diakuinya, dalam berbagai kesempatan baik dirinya, Mandagi maupun Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Drs. A. J. S. Werinussa, acap kali memberikan dukungan demi suksesnya penyelenggaraan Pesparani nanti.

Bahkan, tegasnya, ketiganya, pernah menyatakan dukungan atas penyelenggaraan Pesparani di hadapan para uskup di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Ketua MPR dan Metro TV, saat kunjungan pertama ke Jakarta, 18 Mei lalu.

Begitupun dalam kunjungan kedua bersama Gubernur Maluku dan Wagub Maluku tanggal 1 Agustus lalu, akunya, ketiganya pun menghadap Menteri Agama dan Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla, untuk meminta dukungan dalam acara Pesparani.

”Kita bersama-sama. Tokoh agama di Maluku kompak dan selalu berkoordinasi. Sungguh erat,” timpalnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan pihaknya ini sejalan dengan program Pemprov Maluku yang ingin menjadikan daerahnya sebagai laboratorium kerukunan umat beragama.

Dimana, Maluku yang pernah mengalami konflik sosial sebelumnya, dapat cepat bangkit untuk merajut kembali kedamaian dan persatuan antara umat beragama.

”Daerah-daerah lain pun sudah belajar dari Maluku dalam membangun kerukunan umat beragama. Bahkan dari luar negeri pun ada yang datang untuk belajar. Oleh karena itu kehadiran Presiden dalam membuka Pesparani ini sangat penting di Maluku dalam rangka even kerukunan nasional. Apalagi dalam situasi tahun politik sekarang ini,” pungkasnya. (keket)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: