Selanjutnya, bersamaan dengan kematian putra Rasulullah, Ibrahim, terjadi gerhana matahari. Kala itu, kaum Muslimin menganggap peristiwa tersebut suatu mujizat. Kata mereka terjadinya gerhana matahari karena Ibrahim meninggal. Hal ini terdengar oleh Nabi.
Rasulullah melihat mereka yang mengatakan bahwa matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim, dalam khutbahnya kepada mereka ia berkata:
“Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam dzikir kepada Tuhan dengan berdoa.”
Islam mengajarkan peristiwa gerhana hendaklah dimaknai sebagai sarana dan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah shalat khusuf atau sholat gerhana.
Pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, gerhana matahari pernah terjadi sebanyak tiga kali, sedangkan gerhana bulan terjadi lima kali. Dalam konteks ini, Nabi SAW mensyariatkan pelaksanaan sholat gerhana sebagai bentuk spiritualisasi.
Gerhana sebagai salah satu ayat Allah yang ditunjukkan di alam raya ini tidak sekadar peristiwa alamiah, tetapi juga peristiwa ilmiah yang menarik diobservasi, dicermati, dan diteliti secara saintifik.









