“Negeri Jazirah Leihitu adalah negeri yang sejak dahulu kala menjadi pusat penyebaran Islam di Maluku. Di sinilah denyut awal budaya dan seni Islam berakar kuat,” ujar Lewerissa.
Karena itu, menurutnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak harus berhenti pada ceramah dan doa.
Seni keagamaan seperti hadroh dapat menjadi medium lain untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Lantunan shalawat yang berpadu dengan irama rebana dinilai memiliki kekuatan untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan sekaligus memperhalus hubungan sosial.
“Agama mengajarkan kedamaian, seni menghadirkan keindahan, dan persaudaraan menghadirkan kekuatan,” tegasnya.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan Lewerissa dengan kehidupan sosial masyarakat Maluku yang memiliki kekayaan tradisi persaudaraan, termasuk Pela Gandong dan budaya gotong royong.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perubahan zaman.
Dari Festival Hadroh Menuju Wisata Religi
Lewerissa melihat Festival Hadroh juga memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.
Sedikitnya terdapat tiga nilai strategis yang dapat dikembangkan dari kegiatan tersebut.
Pertama, festival dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus melanjutkan tradisi seni Islam yang telah hidup di tengah masyarakat.









