WALHI–KNTI Desak Pemerintah Lindungi Nelayan Kecil dari Krisis Iklim dan Tambang

oleh -7 Dilihat
Nelayan Maluku Utara membersihkan jaring dari lumpur sedimentasi: Foto: WALHI Maluku Utara

Porostimur.com, Jakarta – Koalisi lingkungan dan nelayan menyoroti tekanan berat yang dihadapi nelayan kecil Indonesia. Pada momentum Hari Nelayan Nasional, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis di tengah krisis iklim dan ekspansi industri ekstraktif yang kian meminggirkan nelayan.

Dalam pernyataan bersama di Jakarta, 6 April 2026, kedua organisasi menilai krisis yang dihadapi nelayan bukan lagi persoalan tunggal, melainkan sudah menjadi krisis multidimensi—mulai dari perubahan iklim hingga tekanan pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya.

Krisis Iklim dan Tambang Tekan Wilayah Tangkap

Perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau kecil disebut kian memperparah kondisi. Kenaikan muka laut, banjir rob, abrasi, hingga intrusi air laut kini menjadi ancaman nyata bagi kehidupan nelayan.

Baca Juga  PSG Tumbang dari Monaco, Sang Juara Bertahan Belum Menang di Ligue 1

Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan WALHI, Dana Tarigan, menegaskan situasi di pesisir semakin berat akibat cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.

“Situasi iklim di pesisir dan pulau kecil Indonesia makin berat karena cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi. Ancaman nyata terjadi di pulau-pulau kecil yang berhadapan langsung dengan kenaikan muka laut, ditambah ekspansi tambang di pulau kecil,” ujarnya.